Dolar Bisa Terus Menjauh dari Rp 12.000, Ini Syaratnya

Dolar Bisa Terus Menjauh dari Rp 12.000, Ini Syaratnya

- detikFinance
Senin, 10 Mar 2014 19:48 WIB
Dolar Bisa Terus Menjauh dari Rp 12.000, Ini Syaratnya
Jakarta -

Nilai tukar rupiah terus melanjutkan penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hari ini dolar makin jauh tinggalkan Rp 12.000, dan ditutup di Rp 11.375.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, rupiah bisa saja terus menguat asal pemerintah tetap melanjutkan reformasi struktural dari paket kebijakan ekonomi yang sudah dikeluarkan. Terutama untuk menjaga neraca perdagangan agar terhindar dari defisit setiap bulannya.

"Harus dilihat data neraca perdagangan, karena itu reformasinya harus berlanjut," ujar Chatib di kantornya, Jakarta, Senin (10/3/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bentuk reformasi struktural itu di antaranya adalah, dengan mengurangi ketergantungan impor minyak, dan barang-barang tidak penting lainnya. Kemudian meningkatkan ekspor dengan nilai tambah, seperti barang manufaktur.

Memasuki triwulan II-2014 (April-Juni), Chatib mengatakan, kondisi neraca perdagangan dimungkinkan kembali ke masa sulit. Karena impor barang modal akan meningkat tajam yang sesuai siklus terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

"Polanya biasanya (neraca perdagangan) triwulan I agak oke tapi rendah, triwulan II defisit agak tinggi karena orang impor barang modal, triwulan III turun IV turun. Saya sudah bilang dari awal itu," jelasnya

Selain itu juga harus diperhatikan adalah, neraca pembayaran dan jasa. Sehingga secara keseluruhan dalam defisit transaksi berjalan (current account deficit) dapat terus diperkecil. Chatib pun menargetkan sebesar 2,5% pada akhir tahun 2014.

"Intinya neraca perdagangan harus diperbaiki saya anggap harus bisa lebih baik. Saya mau defisit dari CAD akhir tahun 2,5%. Di 2013 masih 3,2%," sebut Chatib

Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) tetap akan fokus dalam melakukan pengetatan fiskal dan moneter. Ini merupakan kewaspadaan dan cara agar perekonomian tetap stabil. Kemudian tahun 2015 pertumbuhan ekonomi dapat dinaikkan kembali.

"Fiskalnya masih akan tetap ketat, moneternya juga begitu. Di 2015 baru ekspektasi pertumbuhan ekonomi tinggi. Sekarang masih asumsi APBN 5,8%-6%," paparnya.

Pekan lalu, Chatib baru saja melakukan pertemuan dengan para investor di AS. Ia mengatakan Indonesia banyak mendapat apresiasi dari para investor terkait perkembangan ekonomi. Terutama dalam upaya penurunan defisit transaksi berjalan (current accoun deficit/CAD).

"Seminggu saya ke AS untuk menemui investor, mereka sangat menghargai apa yang dilakukan Indonesia. Jadi setelah mereka lihat indikator di CAD, dan lihat kebijakannya 4 bulan positif, kecenderungan begitu. dan Indonesia dianggap negara paling cepat yang respons," kata Chatib.

"Walaupun begitu, saya lebih baik jangan memberi harapan berlebihan. Kadang-kadang kalau di kita suka ada yang bagus, langsung meerasa semua sudah beres padahal masih banyak hal yang mesti dibereskan. Masih banyak, ini bagus tapi tetap harus waspada dan banyak reformasi yang mesti dilanjutkan dan bukan berarti reformasinya berhenti," tutupnya.

(mkl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads