Sebelumnya pasar saham Asia dan Eropa juga sudah kehilangan pijakan dan berakhir di zona merah gara-gara data inflasi China yang melemah serta defisit perdagangan Februari yang mencapai US$ 23 miliar. Padahal analis memprediksi China bisa surplus US$ 11,9 miliar.
"Pelaku pasar mengamankan diri melihat lemahnya data ekspor China, itu berarti pertumbuhan ekonomi China akan melambat," kata Jack Ablin, kepala investasi pasar dari BMO Private Bank dikutip AFP, Selasa (11/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saham-saham sudah naik tinggi di Februari. Pelaku pasar memang sudah dalam posisi untuk ambil untung," ujarnya.
Pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat, Indeks Dow Jones turun 33,43 poin (0,20%) ke level 16.419,29. Indeks S&P 500 menipis 0,86 poin (0,05%) ke level 1.877,18, sementara Indeks Komposit Nasdaq berkurang 1,77 poin (0,04%) ke level 4.334,44.
(ang/ang)











































