Bakrie & Brothers Andalkan Pendapatan dari Agribisnis
Rabu, 08 Des 2004 13:29 WIB
Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan mengandalkan sektor agribisnis dalam usahanya. Hal ini dilakukan setelah pemegang saham secara aklamasi menyetujui pengambilalihan PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) oleh BNBR.Dalam RUPSLB, Rabu (8/12/2004) pemegang saham setuju BNBR menguasai sekitar 57 persen sampai 60 persen saham di UNSP yang nilainya mencapai Rp 370,6 miliar. Demikian diungkapkan Dirut BNBR, Bobby Gafur Umar, kepada wartawan usai RUPSLB di Club Rasuna, Kuningan, Jakarta Selatan.Saat ini 52,5 persen saham UNSP dikuasai oleh Bakrie BSP Limited yang merupakan gabungan mantan kreditor. Di mana sahamnya sebagian besar dimiliki Agro Asia Limited yang berbasis di Singapura. Sedangkan sisa sahamnya sebesar 47,5 persen dimiliki publik.Bobby menjelaskan, dana akuisisi UNSP sebesar Rp 370,6 miliar berasal dari pinjaman Swiss Chartered Investment. Pinjaman dari Swiss Chartered Investment tersebut diperoleh dengan tenor satu tahun dan cost of fund sebesar 12 persen.Sedangkan Direktur Keuangan BNBR, Juanita Rohali mengatakan, pinjaman ini nantinya akan direfinancing pada saat jatuh tempo. Jaminan dari pinjaman tersebut adalah unit usaha dibawah BNBR yang mempunyai nilai aset sebesar pinjaman tersebut.Bobby juga menjelaskan, proses pengambilalihan UNSP itu akan dilakukan dalam dua tahap. Pertama melalui right issue UNSP sebesar 27 persen sampai 28 persen. Untuk proses ini perseroan juga telah mendapatkan pengalihan right dari pemegang saham mayoritas UNSP saat ini yaitu Bakrie BSP Limited, Singapura. Selain itu perseroan juga bertindak sebagai standby buyer dari right UNSP yang tidak dikonversi. Sedangkan tahap kedua, akan dilakukan melalui pembelian langsung sebesar 26 sampai 27 persen saham UNSP, sehingga pada akhirnya BNBR akan mengupayakan kepemilikan di UNSP mencapai 60 persen.Bobby menjelaskan, akusisi BNBR terhadap UNSP merupakan kebijakan yang sangat strategis untuk masa depan BNBR. Di mana BNBR memang telah merencakan ekspansi besar-besaran di sektor agribisnis melalui perluasan lahan perkebunan. Setelah itu BNBR berencana masuk ke indutri hilir."Ke depan agribisnis dipastikan akan menjadi salah satu bisnis inti BNBR, selain telekomunikasi yang telah ditekuni sejak beberapa tahun lalu," kata Bobby.Penguasaan saham BNBR di UNSP akan dilakukan melalui right issue maupun akuisisi langsung yang ditargetkan bisa selesai akhir tahun ini. Perseroan juga berencana memperluas lahan perebunan sawit dan karet seluas 50 ribu hektar dalam 3 tahun ke depan. Perluasan lahan tersebut akan dilakukan di Sumetra dan Kalimantan, baik melalui akuisisi lahan maupun membuka lahan baru,Bobby memperkirakan sampai tahun 2020 harga komoditas pertanian, khususnya CPO (crude palm oil/ minyak sawit mentah), dan karet akan terus membaik seiring dengan membaiknya perekonomian dunia. Maka itu Bobby memproyeksikan, sektor agribisnis dari unit usaha BNBR melalui UNSP pada tahun 2009, akan memberi kontribusi pendapatan kepada BNBR sekitar Rp 1,5 triliun hingga Rp 1,7 triliun.Diperkirakan, sektor agribisnis akan memberikan kontribusi pendapatan sekitar 35 persen dari total pendapatan BNBR yang diproyeksikan mencapai Rp 2,3 triliun pada tahun 2005 mendatang.Ekpansi ke HilirBobby juga menjelaskan, BNBR akan mengembangkan sektor indutri hilir CPO dan turunannya seperti produksi oleo chemical, minyak goreng dan gee stream. serta pengembangan bibit unggul cpo. Dalam waktu dekat juga direncanakan akan didirikan pabrik pengolahan kelapa sawit di Kisaran, Sumatera Utara.Bobby juga mengatakan, bahwa perseroan akan melakukan kajian untuk pengembangan bibit unggul untuk menunjang produktifitas yang tinggi pada pohon kelapa sawit. Diproyeksikan kebutuhan bibit unggul CPO di Indonesia sekitar 100 juta sampai 150 juta bibit per tahun untuk penanaman seluas 500 ribu hektar per tahun.
(djo/)











































