Hati-hati, Rupiah Berpotensi Anjlok Lagi Gara-gara Hal Ini

Hati-hati, Rupiah Berpotensi Anjlok Lagi Gara-gara Hal Ini

- detikFinance
Kamis, 13 Mar 2014 11:40 WIB
Hati-hati, Rupiah Berpotensi Anjlok Lagi Gara-gara Hal Ini
Foto: Reuters
Jakarta - Nilai tukar rupiah mengalami tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. Tapi penguatan ini hanya sementara, karena dolar diprediksi akan kembali menguat.

Pagi tadi setelah dibuka di Rp 11.385, nilai rupiah terhadap dolar AS sempat sentuh titik terendahnya di Rp 11.420 per dolar AS. Namun kini berada di kisaran Rp 11.370 per dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan ancaman pelemahan nilai tukar memang masih menghantui rupiah. Terutama jika pasar keuangan tidak dijaga dalam kondisi yang sehat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita harus menjaga arah perkembangan kesehatan keuangan dari ekonomi Indonesia. Kalau nggak bisa dijaga, akan buat kondisi lebih lemah," ujarnya pada agenda seminar Fitch Rating soal proyeksi ekonomi Indonesia usai Pemilu, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (13/3/2014)

Penguatan yang terjadi sebelumnya adalah dikarenakan faktor perbaikan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Di mana pada akhir tahun 2013 CAD sudah membaik pada angka 3,26% dari yang sebelumnya mencapai 4,4%.

Kemudian besarnya dana investor yang masuk ke dalam negeri. Tercatat pada Minggu pertama di bulan Maret arus dana masuk adalah sebesar Rp 38 triliun. Lebih tinggi dari periode yang sama tahun 2013 yang hanya sebesar Rp 28 triliun.

"Jika ini tidak dijaga, maka rupiah bisa saja kembali melemah di luar kontrol," ujarnya.

Agus mengatakan reformasi struktural harus tetap di lakukan. Baik oleh pemerintah maupun BI. Karena masih banyak tantangan yang akan dihadapi Indonesia ke depannya.

Pada sisi internal, akan ada agenda pemilu untuk pergantian pemerintahan, pelemahan ekspor akibat pemberlakuan aturan Minerba pada Januari lalu dan inflasi yang disebabkan oleh kelompok harga yang diatur pemerintah.

Kemudian dari sisi eksternal, adalah masih adanya pengaruh kebijakan Bank Sentral AS The Fed dalam penarikan stimulus. Di samping itu juga tekanan dari penurunan pertumbuhan ekonomi Cina pada tahun 2014.

"Saya ingin teruskan reformasi struktural yang terus berjalan, kita masuki tahun 2014 ada pemilu dan menjaga tren yang sudah baik. BI melihat ekonomi kita menuju ekonomi yang baik. CAD menuju satu kondisi yang sehat dan pasar keuangan kita lebuh efisien," paparnya.

Pada kesempatan yang sama Presiden Direktur Fitch Rating Indonesia Baradita Katoppo mengasumsikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,3% atau lebih rendah dari target pemerintah dan BI. Sementara untuk CAD akan berada di kisaran 3,1%.

"Kita bukan lebih pesimis tapi kita mengasumsi lebih rendah pertumbuhannya dibanding pertumbuhan ekonomi pemerintah dan kita prediksi sekitar 5,3%," ujar Baradita.

Ini adalah akibat dari penyelenggaraan pemilu yang membuat pasar keuangan berhati-hati. Terutama untuk penerbitan obilgasi dan sejenisnya.

"Untuk yang menambah utang baru tentu mereka akan hati-hati, utang yang ada jatuh tempo mau direfinance tetap dilakukan, jadi saya sebutnya tahun ini tahun refinance," pungkasnya.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads