Diperlukan penjagaan kestabilan ekonomi yang baik, agar rupiah tidak kembali melemah liar dalam sekejap.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara, mengatakan konsentrasi saat ini adalah pada inflasi dan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tirta menuturkan, inflasi memang melonjak di awal tahun karena harga pangan. Namun masih sesuai perkiraan selaras dengan target 4,5% plus minus 1% pada akhir tahun. Kemudian CAD juga perlahan bisa diturunkan. BI optimistis pada akhir tahun CAD mencapai 2,5%.
"CAD saya katakan, kita optimistis kita katakan di bawah 3% tahun ini defisitnya. Tapi kan membaik artinya. Kalau lebih optimistis lagi 2,5%," ujarnya.
Kemudian adalah cadangan devisa (cadev), pada Februari 2014 meningkat menjadi US$ 102,7 miliar atau setara 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
"Cadev kita ruang lingkupnya berapa bulan impor dan bayar utang jangka pendek. Kan selama ini rasio itu kita sehat ya," sebut Tirta
Sebelumnya Kepala Ekonom Bank Mandiri Destri Damayanti menilai, masih ada ketidakpastian ke depan yang mampu mengancam nilai tukar rupiah. Yaitu adalah neraca transaksi berjalan, pemilu, dan kredit perbankan.
"Kita nggak tahu neraca perdagangan ke depan seperti apa, itu yang pertama. Kedua ketidakpastian pemilu dan ketiga adalah CAD bener nggak akhir tahun bisa 2,5% terus terakhir ada kredit perbankan yang masih tinggi. Kan targetnya kisaran 15%," papar Destri.
(mkl/dnl)











































