Pada penutupan perdagangan, Jumat (14/3/2014), IHSG ditutup melompat 152,476 poin (3,23%) ke level 4.878,643. Sementara dolar jatuh dari kisaran Rp 11.400 menjadi Rp 11.255.
Meskipun, pagi ini IHSG turun karena aksi ambil untung (profit taking). Pada pembukaan perdagangan hari ini, IHSG naik tipis 4,575 poin (0,09%) ke level 4.883,217. Indeks LQ45 menipis 0,766 poin (0,09%) ke level 829,902.
Hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG berkurang 20,534 poin (0,42%) ke level 4.858,109. Sementara Indeks LQ45 turun 6,827 poin (0,82%) ke level 823,841.
Menanggapi dampak pencapresan Jokowi yang menguatkan IHSG dan rupiah pekan lalu, sejumlah pihak berkomentar. Mulai dari menteri, pengusaha, hingga pejabat tinggi Bank Indonesia (BI) ikut buka suara.
Bagaimana tanggapan mereka? Berikut hasilnya yang telah dirangkum detikFinance, Senin (17/3/2014).
|
|
1. Pengusaha Sofjan Wanandi: 'Jokowi Seperti Obama'
|
|
"Dia kayak Obama di Amerika, mana bisa orang kulit hitam jadi presiden dari orang yang mayoritasnya kulit putih," kata Sofjan kepada detikFinance, Sabtu (15/3/2014).
"Dia lakukan pekerjaan yang baik. Dia benahi Waduk Pluit, Tanah Abang jadi baik, dia bikin perumahan rakyat. Untuk pengaturan sungai dia nggak main gusur, ada alternatif. Itu contoh kecil," sebutnya.
Kalangan pengusaha menyambut positif pencapresan Jokowi karena ia bukan berasal dari Ketua Umum Partai dan merupakan calon pemimpin berusia muda jika dibandingkan dengan calon-calon presiden yang muncul di 2014.
Sofjan menjelaskan, jika Jokowi berhasil menjadi Presiden RI, maka masih banyak pekerjaan rumah di bidang ekonomi. Seperti menaikkan pertumbuhan ekonomi, menggenjot pembangunan infrastruktur dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dalam jumlah besar.
"PR-nya, di bidang ekonomi supaya pertumbuhan ekonomi bisa 10%. Bisa beri pekerjaan ke masyarakat, bikin infrastruktur dan persatukan bangsa kita yang sudah pecah," ujarnya.
1. Pengusaha Sofjan Wanandi: 'Jokowi Seperti Obama'
|
|
"Dia kayak Obama di Amerika, mana bisa orang kulit hitam jadi presiden dari orang yang mayoritasnya kulit putih," kata Sofjan kepada detikFinance, Sabtu (15/3/2014).
"Dia lakukan pekerjaan yang baik. Dia benahi Waduk Pluit, Tanah Abang jadi baik, dia bikin perumahan rakyat. Untuk pengaturan sungai dia nggak main gusur, ada alternatif. Itu contoh kecil," sebutnya.
Kalangan pengusaha menyambut positif pencapresan Jokowi karena ia bukan berasal dari Ketua Umum Partai dan merupakan calon pemimpin berusia muda jika dibandingkan dengan calon-calon presiden yang muncul di 2014.
Sofjan menjelaskan, jika Jokowi berhasil menjadi Presiden RI, maka masih banyak pekerjaan rumah di bidang ekonomi. Seperti menaikkan pertumbuhan ekonomi, menggenjot pembangunan infrastruktur dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dalam jumlah besar.
"PR-nya, di bidang ekonomi supaya pertumbuhan ekonomi bisa 10%. Bisa beri pekerjaan ke masyarakat, bikin infrastruktur dan persatukan bangsa kita yang sudah pecah," ujarnya.
2. Analis Saham: 'Kita Butuh Pemimpin Kuat dan Bersih'
|
|
Lantas kenapa pasar menunggu-nunggu Jokowi? Harry mengatakan, karena Jokowi mempunyai dasar kepemimpinan yang kuat, dan juga didukung oleh masyarakat dari lapisan bawah. "Kita butuh pemimpin yang mendapat dukungan kuat serta bersih. Jadi bisa memimpin untuk meningkatkan perekonomian," ujar Harry.
Lalu satu lagi kunci keberhasilan Jokowi yang mendorong kepercayaan pelaku pasar keuangan adalah, karena perkembangan ekonomi Jakarta yang sangat bagus.
Pendapatan pajak DKI, ujar Harry, di 2012 adalah Rp 36 triliun dan di 2013 naik hampir dua kali lipat menjadi Rp 70 triliun. "Ini sangat baik dan mengagetkan karena jarang pendapatan sebuah ibu kota negara bisa naik dua kali lipat, dan ternyata Jokowi bisa melakukan itu. Kalau ini dilakukan secara nasional dengan dia presiden, ini bisa mengagumkan," papar Harry.
Memang tak pernah pengumuman pencapresan mempengaruhi pasar saham dan nilai tukar sebegitu hebat seperti Jokowi. Menurut Harry, pelaku pasar yakin, dengan pencapresan Jokowi, sudah otomatis dialah yang bakal menjadi presiden. Karena begitu besarnya dukungan untuk Jokowi.
Tak hanya sampai situ, bahkan saham-saham unggulan atau blue chip seperti Bank Mandiri dan BRI sempat naik double digit pasca pengumuman pencapresan Jokowi. "Memang ada semacam panic buying di pasar saham pasca pengumuman itu," jelas Harry.
Dia juga mengatakan, masih ada faktor perjalanan politik yang jadi perhatian pelaku pasar keuangan. Antara lain adalah kebijakan Jokowi bila menjadi presiden, lalu siapa yang akan menjadi wakil presiden serta menteri-menterinya. Semua ini bisa mempengarui sentimen pelaku pasar keuangan.
Siapa Cawapres yang cocok untuk Jokowi? Harry punya pendapat sendiri. Menurutnya selama ini orang-orang sipil yang menjadi presiden tidak pernah bertahan satu periode kepemimpinan. Jadi untuk bisa bertahan, mungkin Jokowi bisa mengusung cawapres dari kalangan militer.
2. Analis Saham: 'Kita Butuh Pemimpin Kuat dan Bersih'
|
|
Lantas kenapa pasar menunggu-nunggu Jokowi? Harry mengatakan, karena Jokowi mempunyai dasar kepemimpinan yang kuat, dan juga didukung oleh masyarakat dari lapisan bawah. "Kita butuh pemimpin yang mendapat dukungan kuat serta bersih. Jadi bisa memimpin untuk meningkatkan perekonomian," ujar Harry.
Lalu satu lagi kunci keberhasilan Jokowi yang mendorong kepercayaan pelaku pasar keuangan adalah, karena perkembangan ekonomi Jakarta yang sangat bagus.
Pendapatan pajak DKI, ujar Harry, di 2012 adalah Rp 36 triliun dan di 2013 naik hampir dua kali lipat menjadi Rp 70 triliun. "Ini sangat baik dan mengagetkan karena jarang pendapatan sebuah ibu kota negara bisa naik dua kali lipat, dan ternyata Jokowi bisa melakukan itu. Kalau ini dilakukan secara nasional dengan dia presiden, ini bisa mengagumkan," papar Harry.
Memang tak pernah pengumuman pencapresan mempengaruhi pasar saham dan nilai tukar sebegitu hebat seperti Jokowi. Menurut Harry, pelaku pasar yakin, dengan pencapresan Jokowi, sudah otomatis dialah yang bakal menjadi presiden. Karena begitu besarnya dukungan untuk Jokowi.
Tak hanya sampai situ, bahkan saham-saham unggulan atau blue chip seperti Bank Mandiri dan BRI sempat naik double digit pasca pengumuman pencapresan Jokowi. "Memang ada semacam panic buying di pasar saham pasca pengumuman itu," jelas Harry.
Dia juga mengatakan, masih ada faktor perjalanan politik yang jadi perhatian pelaku pasar keuangan. Antara lain adalah kebijakan Jokowi bila menjadi presiden, lalu siapa yang akan menjadi wakil presiden serta menteri-menterinya. Semua ini bisa mempengarui sentimen pelaku pasar keuangan.
Siapa Cawapres yang cocok untuk Jokowi? Harry punya pendapat sendiri. Menurutnya selama ini orang-orang sipil yang menjadi presiden tidak pernah bertahan satu periode kepemimpinan. Jadi untuk bisa bertahan, mungkin Jokowi bisa mengusung cawapres dari kalangan militer.
3. Hatta Rajasa: 'Ada Sentimen Positif'
|
|
Menurut Hatta, sentimen positif itu lebih kepada ada calon presiden yang maju. Jadi jika ada calon presiden baru lagi yang muncul maka diharapkan bisa semakin positif.
"Realitas ada sentimen positif. Mudah-mudahan kalau ada yang mendeklarasikan lagi bisa naik lagi nilai rupiahnya," ujar Hatta di Acara Kampanye Damai Partai Politik di Monas, Jakarta, Sabtu (15/3/2014).
Hatta menambahkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang sudah menguat dalam beberapa hari terakhir. Penguatan ini tidak hanya dibantu oleh pencapresan Jokowi, tapi juga fundamentalnya yang sudah semakin baik.
"Rupiah terus menguat selama beberapa bulan ini. Ini fenomena bagus buat kita. Rupiah mencerminkan fundamentalnya," jelasnya.
3. Hatta Rajasa: 'Ada Sentimen Positif'
|
|
Menurut Hatta, sentimen positif itu lebih kepada ada calon presiden yang maju. Jadi jika ada calon presiden baru lagi yang muncul maka diharapkan bisa semakin positif.
"Realitas ada sentimen positif. Mudah-mudahan kalau ada yang mendeklarasikan lagi bisa naik lagi nilai rupiahnya," ujar Hatta di Acara Kampanye Damai Partai Politik di Monas, Jakarta, Sabtu (15/3/2014).
Hatta menambahkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang sudah menguat dalam beberapa hari terakhir. Penguatan ini tidak hanya dibantu oleh pencapresan Jokowi, tapi juga fundamentalnya yang sudah semakin baik.
"Rupiah terus menguat selama beberapa bulan ini. Ini fenomena bagus buat kita. Rupiah mencerminkan fundamentalnya," jelasnya.
4. Deputi Gubernur Senior BI: 'Pasar Keuangan yakin Birokrasi Berlanjut'
|
|
"Pasar keuangan yakin bahwa reformasi ekonomi, hukum, dan birokrasi di Indonesia bisa dilanjutkan oleh pemerintah mendatang," ujarnya ketika ditanya soal pencapresan Jokowi saat ditemui di Bandara Sultan Babullah, Ternate, Sabtu (15/3/2014).
Menurut Mirza, dengan reformasi yang berlanjut seperti itu maka kesejahteraan masyarakat akan meningkat dan berujung kepada peningkatan stabilitas ekonomi dan keamanan investasi.
4. Deputi Gubernur Senior BI: 'Pasar Keuangan yakin Birokrasi Berlanjut'
|
|
"Pasar keuangan yakin bahwa reformasi ekonomi, hukum, dan birokrasi di Indonesia bisa dilanjutkan oleh pemerintah mendatang," ujarnya ketika ditanya soal pencapresan Jokowi saat ditemui di Bandara Sultan Babullah, Ternate, Sabtu (15/3/2014).
Menurut Mirza, dengan reformasi yang berlanjut seperti itu maka kesejahteraan masyarakat akan meningkat dan berujung kepada peningkatan stabilitas ekonomi dan keamanan investasi.
5. Menteri Keuangan Chatib Basri: 'IHSG Menguat, Bisa Jadi Efek Jokowi'
|
|
Ia menuturkan ada fenomena lokal yang kuat mendukung sentimen positif tersebut sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa cerah di akhir pekan. Namun Chatib tak menyebutkan secara langsung, bahwa fenomena lokal itu adalah soal pencapresan Gubernur DKI Jakarta Jokowi.
"Indeks saham regional Jumat kemarin bervariasi Sehingga penguatan IHSG kemarin cerminan dari sentimen lokal yang kuat sekali. Dari sini bisa disimpulkan bahwa penguatan IHSG adalah sentimen positif lokal. Bisa jadi adalah efek dari Jokowi. Karena mungkin bisa dilihat, ada lagi nggak selain itu dari lokal," kata Chatib berbalik bertanya kepada detikFinance, Minggu (16/3/2014).
Chatib mengatakan, bila melihat dampak dari faktor eksternal pada Jumat lalu hampir tidak ada. Terlihat nilai tukar rupiah hanya menguat sedikit. Itu pun adalah karena tren yang sudah terjadi dari sebulan yang lalu, begitu juga dengan yield bond.
"Sentimen positif eksternal biasanya tercermin dari menguatnya nilai tukar dan menurunnya yield. Hari Jumat kemarin praktis rupiah hanya menguat 30 poin menjadi Rp 11.356/US$. Penguatan rupiah praktis sudah terjadi sejak bulan lalu. Jika kita lihat bond yield, Jumat kemarin juga relatif stabil. Artinya Jumat kemarin praktis sentimen positif bukan disebabkan oleh arus modal asing yang masuk ke SUN atau ke rupiah. Jadi fenomena Jumat kemarin bukan fenomena eksternal," paparnya
Chatib mengakui unsur sosok pemimpin dapat meningkatkan kepercayaan terhadap investor. Alasannya terkait dengan bagaimana investor itu tetap tenang dalam menempatkan dananya di Indonesia. Namun tetap dalam pasar keuangan, logika profit masih menjadi prioritas investor.
"Ada unsur seperti itu. Tapi kembali lagi logika pasar itu adalah profit. Jangan sampai ketika profit-nya besar dan ada profit taking itu disebut itu sentimen dari sosok tadi berakhir. Ada fluktuasi itu juga harus menjadi perhatian," jelasnya.
5. Menteri Keuangan Chatib Basri: 'IHSG Menguat, Bisa Jadi Efek Jokowi'
|
|
Ia menuturkan ada fenomena lokal yang kuat mendukung sentimen positif tersebut sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa cerah di akhir pekan. Namun Chatib tak menyebutkan secara langsung, bahwa fenomena lokal itu adalah soal pencapresan Gubernur DKI Jakarta Jokowi.
"Indeks saham regional Jumat kemarin bervariasi Sehingga penguatan IHSG kemarin cerminan dari sentimen lokal yang kuat sekali. Dari sini bisa disimpulkan bahwa penguatan IHSG adalah sentimen positif lokal. Bisa jadi adalah efek dari Jokowi. Karena mungkin bisa dilihat, ada lagi nggak selain itu dari lokal," kata Chatib berbalik bertanya kepada detikFinance, Minggu (16/3/2014).
Chatib mengatakan, bila melihat dampak dari faktor eksternal pada Jumat lalu hampir tidak ada. Terlihat nilai tukar rupiah hanya menguat sedikit. Itu pun adalah karena tren yang sudah terjadi dari sebulan yang lalu, begitu juga dengan yield bond.
"Sentimen positif eksternal biasanya tercermin dari menguatnya nilai tukar dan menurunnya yield. Hari Jumat kemarin praktis rupiah hanya menguat 30 poin menjadi Rp 11.356/US$. Penguatan rupiah praktis sudah terjadi sejak bulan lalu. Jika kita lihat bond yield, Jumat kemarin juga relatif stabil. Artinya Jumat kemarin praktis sentimen positif bukan disebabkan oleh arus modal asing yang masuk ke SUN atau ke rupiah. Jadi fenomena Jumat kemarin bukan fenomena eksternal," paparnya
Chatib mengakui unsur sosok pemimpin dapat meningkatkan kepercayaan terhadap investor. Alasannya terkait dengan bagaimana investor itu tetap tenang dalam menempatkan dananya di Indonesia. Namun tetap dalam pasar keuangan, logika profit masih menjadi prioritas investor.
"Ada unsur seperti itu. Tapi kembali lagi logika pasar itu adalah profit. Jangan sampai ketika profit-nya besar dan ada profit taking itu disebut itu sentimen dari sosok tadi berakhir. Ada fluktuasi itu juga harus menjadi perhatian," jelasnya.
Halaman 2 dari 12










































