Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, ada sejumlah hal yang membuat rupiah tertekan tahun lalu. Salah satunya adalah tingginya defisit transaksi berjalan (current account deficit), akibat neraca perdagangan perdagangan defisit. Tingginya kebutuhan impor, khususnya BBM, membuat kebutuhan dolar dalam negeri naik.
Belum lagi dari luar negeri, ada sentimen negatif akibat rencana bank sentral AS yaitu Federal Reserves atau The Fed mengurangi paket stimulusnya. Ini membuat dana-dana asing dari negara berkembang ditarik, termasuk di Indonesia. Bahkan pada pertengahan 2013 lalu, tepatnya di Juni, dana asing dari surat berharga negara (SBN), sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan saham keluar Rp 40,01 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2013 lalu, nilai tukar rupiah menjadi yang terbesar persentase pelemahannya terhadap dolar AS. Berikut daftar pergerakan nilai tukar di Asia terhadap dolar AS tahun lalu:
- Rupiah: melemah 26,27%
- Yen: melemah 21,4%
- Ringgit: melemah 7,2%
- Baht: melemah 7,17%
- Peso Filipina: melemah 8,19%
- Dolar Singapura: melemah 3,44%
- Won: menguat 1,29%
- Yuan: menguat 2,83%
- Rupee: melemah 13,06%
Berikut daftar pergerakan nilai tukar di Asia terhadap dolar AS pada Januari-14 Maret 2014:
- Rupiah: menguat 6,99%
- Yen: menguat 3,68%
- Ringgit: menguat 0,09%
- Baht: menguat 1,89%
- Peso Filipina: melemah 0,63%
- Dolar Singapura: menguat 0,01%
- Won: melemah 1,86%
- Yuan: melemah 2,28%
- Rupee: menguat 1,17%











































