CEO Bakrie Global Ventura Anindya Bakrie membuka alasan pembelian tersebut.
"Investasi aplikasi Path, saya ditawari oleh teman-teman sewaktu kuliah di Stanford Business School. Saya lulusan lulusan Stanford Graduate School of Business," kata Anindya saat acara Peluang Studi ke Universitas Amerika Serikat yang bermutu di Aula Mezzanine-Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (22/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kesempatan ini tidak akan pernah terjadi jika tidak ada jaringan. Saya bangga Indonesia bisa naik kelas dengan menggunakan aplikasi Path yang sudah dimodifikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia," imbuhnya.
Lewat kejadian ini, Anindya menyatakan banyak dampak positif sekolah di luar negeri, salah satunya yaitu konektivitas. Sementara itu Anindya juga yakin aplikasi Path dapat diterima oleh pasar Indonesia.
"Kita lihat nantinya Indonesia menjadi kiblat dari aplikasi ini (Path). Ini salah satu contoh saya pernah sekolah di luar negeri," cetusnya.
Perlu diketahui, jejaring sosial Path yang punya pengguna sekitar 23 juta pengguna di seluruh dunia ini, belum pernah mencetak untung sejak berdiri. Dana yang didapat dari semua hasil penjualan saham ini akan mengunakan uangnya untuk ekspansi dan promosi ke seluruh dunia.
Path saat ini diperkirakan memiliki nilai kapitalisasi pasar US$ 250 juta atau setara Rp 3 triliun lebih. Di Indonesia, Path lumayan populer. CEO Path Dave Morin bahkan pernah berucap, meskipun pengguna Path di Indonesia hanya 4 juta, namun mendominasi 30% trafik, termasuk yang paling aktif di dunia.
Path mendapat US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar dari Grup Bakrie Global. Jumlah ini setara dengan 38,5% dari total investasi US$ 65 juta yang telah masuk ke jejaring sosial itu sejak 2011.
Suntikan dana ini telah membuat Bakrie menjadi salah satu investor terbesar di Path di antara para investor lainnya seperti Greylock Partners, Kleiner Perkins, Index Ventures, Insight Venture Partners, Redpoint Venture Partners, dan First Round Capital.
Path sendiri berturut-turut mulai mendapat suntikan dana dari para pemodal sejak 2011 lalu dengan dana US$ 10 juta. Kemudian di tahun berikutnya kembali mendapatkan dana segar US$ 30 juta.
(wij/dnl)











































