"Kami akan mengikuti peraturan yang ada. Kami akan melihat berdasarkan prospektus. Kami berharap bisa terlaksana kuartal ini," kata Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava saat ditemui di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (3/4/2014) malam.
Dileep menjelaskan, private placement tersebut dilakukan sebagai salah satu cara perseroan untuk melunasi utang-utangnya terhadap China Investment Coorporation (CIC) senilai total US$ 1,787 miliar atau Rp 17,87 triliun. Perseroan ingin segera melunasi utangnya tersebut lantaran beban bunga yang cukup tinggi hingga mencapai 12%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dikutip dari prospektus ringkas perseroan, Jumat (6/12/2013), perusahaan tambang milik Grup Bakrie tersebut menawarkan private placement di harga Rp 425 per lembar. Jumlah saham yang akan dilepas sebanyak 13,65 miliar lembar dengan nilai nominal Rp 200. Nilai nominal saham baru ini berbeda dari saham sebelumnya sebesar Rp 500.
Uang yang didapat akan digunakan untuk bayar utang. Saham baru ini akan ditawarkan kepada beberapa kreditur perseroan yang berminat ikut dalam program penyelesaian utang melalui konversi menjadi saham.
Dalam RUPSLB yang baru digelar Kamis (3/4/2014), pemegang saham menyetujui untuk melunasi utang-utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) senilai US$ 1,787 miliar. Namun, BUMI masih kekurangan uang US$ 430 juta.
Selain menerbitkan saham baru, perusahaan tambang ini akan membayar utang-utangnya lewat penjualan saham anak perusahaannya.
BUMI akan menjual saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19% atau setara US$ 950 juta (Rp 9,5 triliun), menjual saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta (Rp 2,57 triliun), dan melakukan penerbitan saham baru atau Rights Issue BUMI yang mencapai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun).
(drk/ang)











































