Jokowi Belum Aman, Ini Harapan Pelaku Pasar Modal

Jokowi Belum Aman, Ini Harapan Pelaku Pasar Modal

- detikFinance
Jumat, 11 Apr 2014 07:44 WIB
Jokowi Belum Aman, Ini Harapan Pelaku Pasar Modal
Jakarta - Pasar merespon negatif hasil hitung cepat atau quick count Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif dua hari lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga penutupan perdagangan Kamis (10/4/2014) merosot 155,675 poin (3,16%) ke level 4.765,729.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 11.330 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan hari sebelumnya di Rp 11.290 per dolar AS.

Hasil Pemilu Legislatif kemarin dinilai tidak sesuai ekspektasi pasar. Tak ada satu pun partai pemenang mayoritas dalam pesta demokrasi 5 tahunan kali ini. Hal ini menjadi sentimen negatif di pasar Indonesia. Lantas, apa saja tanggapan dan harapan para pelaku pasar untuk pemerintahan selanjutnya? Berikut rangkumannya yang berhasil dihimpun detikFinance, Jumat (11/4/2014).

Pelaku Pasar Kecewa, Pileg Tak Sesuai Harapan

Hasil hitung cepat alias quick count Pemilihan Umum Legislatif (pileg) menunjukkan tidak ada pemenang mayoritas. Partai unggulan PDIP tidak mampu menyentuh batas minimal presidential treshold 25%. Kondisi ini direspons negatif oleh pelaku pasar saham.

Membuka perdagangan, Kamis (10/4/2014), IHSG terjun bebas 145,466 poin (2,96%) ke level 4.775,938. Dolar AS juga menguat ke level Rp 11.330, dibandingkan posisi Selasa kemarin Rp 11.290.

Direktur Utama Indo Premier Moleonoto berpendapat, hasil pileg kemarin tidak sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga direspons negatif.

"Untuk market reaksi negatif dari hasil pemilu kemarin, karena mereka masih berharap Jokowi Effect bisa memberi kontribusi besar, ternyata tidak. Tidak ada satu partai pun yang mendapatkan hasil sampai 25%, ini direspons negatif," ujar Moleonoto saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Dia menjelaskan, hal tersebut akan berpengaruh terhadap pergerakan pasar di Indonesia baik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun nilai tukar rupiah. Setidaknya, hingga Juni nanti, fluktuasi di pasar masih akan terjadi sampai masyarakat tahu akan kepastian politik di Indonesia.

Pelaku Pasar Kecewa, Pileg Tak Sesuai Harapan

Hasil hitung cepat alias quick count Pemilihan Umum Legislatif (pileg) menunjukkan tidak ada pemenang mayoritas. Partai unggulan PDIP tidak mampu menyentuh batas minimal presidential treshold 25%. Kondisi ini direspons negatif oleh pelaku pasar saham.

Membuka perdagangan, Kamis (10/4/2014), IHSG terjun bebas 145,466 poin (2,96%) ke level 4.775,938. Dolar AS juga menguat ke level Rp 11.330, dibandingkan posisi Selasa kemarin Rp 11.290.

Direktur Utama Indo Premier Moleonoto berpendapat, hasil pileg kemarin tidak sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga direspons negatif.

"Untuk market reaksi negatif dari hasil pemilu kemarin, karena mereka masih berharap Jokowi Effect bisa memberi kontribusi besar, ternyata tidak. Tidak ada satu partai pun yang mendapatkan hasil sampai 25%, ini direspons negatif," ujar Moleonoto saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Dia menjelaskan, hal tersebut akan berpengaruh terhadap pergerakan pasar di Indonesia baik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun nilai tukar rupiah. Setidaknya, hingga Juni nanti, fluktuasi di pasar masih akan terjadi sampai masyarakat tahu akan kepastian politik di Indonesia.

Investor Saham Trauma dengan Pemerintahan Koalisi

Pelaku pasar modal punya pengalaman buruk dengan pemerintahan koalisi. Dengan hasil hitung cepat alias quick countPemilu Legislatif yang menyatakan tidak ada partai dengan suara mayoritas, investor pun hengkang dari lantai bursa.

Menurut Pengamat Pasar Modal dari Recapital Asset Management Pardomuan Sihombing, dengan tidak adanya partai pemegang suara mayoritas maka harus ada koalisi untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia (RI) pada Pemilu Presiden Juli mendatang.

"Kekhawatiran pelaku pasar adalah ekspektasi tidak tercapai, yaitu ada partai yang bisa memenangkan suara mayoritas," katanya kepada detikFinance, Kamis (10/4/2014).

Karena jika tidak ada partai yang bisa mayoritas maka harus ada koalisi. Sementara investor sudah melihat bagaimana hasil pemerintahan koalisi dalam lima tahun terakhir ini.

Investor Saham Trauma dengan Pemerintahan Koalisi

Pelaku pasar modal punya pengalaman buruk dengan pemerintahan koalisi. Dengan hasil hitung cepat alias quick countPemilu Legislatif yang menyatakan tidak ada partai dengan suara mayoritas, investor pun hengkang dari lantai bursa.

Menurut Pengamat Pasar Modal dari Recapital Asset Management Pardomuan Sihombing, dengan tidak adanya partai pemegang suara mayoritas maka harus ada koalisi untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia (RI) pada Pemilu Presiden Juli mendatang.

"Kekhawatiran pelaku pasar adalah ekspektasi tidak tercapai, yaitu ada partai yang bisa memenangkan suara mayoritas," katanya kepada detikFinance, Kamis (10/4/2014).

Karena jika tidak ada partai yang bisa mayoritas maka harus ada koalisi. Sementara investor sudah melihat bagaimana hasil pemerintahan koalisi dalam lima tahun terakhir ini.

Media Asing Sebut IHSG Anjlok karena Jokowi Belum Aman

Media-media asing menyoroti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siang ini yang mencapai tiga persen. Mereka menulis jalan Jokowi yang belum mulus jadi Presiden Republik Indonesia (RI) jadi alasan hengkangnya investor asing.

Seperti ditulis Reuters, langkah Jokowi menuju RI 1 terganjal oleh partai pengusungnya, Partai Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang tidak mendapat suara mayoritas dalam Pemilu Legislatif (Pemilu) Legislatif kemarin.

Hal itu terlihat dalam hasil hitung cepat alias quick count sampai siang ini, di mana PDI-P hanya mendapat sekitar 19% suara dari minimal 20% kursi di DPR atau 25% dari total suara nasional.

Melihat hasil tersebut, maka PDI-P harus membuka diri untuk koalisi jika ingin mengajukan Gubernur DKI Joko Widodo sebagai calon presiden RI di Pemilu Presiden Juli mendatang.

"Hal ini akan menjadi pengaruh yang besar terhadap calon presiden baru, karena harus bisa memetakan situasi di parlemen karena terlibat pada politisi lain di koalisi," kata Philips Vermonte, analis CSIS seperti dikutip Reuters, Kamis (10/4/2014).

Media Asing Sebut IHSG Anjlok karena Jokowi Belum Aman

Media-media asing menyoroti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siang ini yang mencapai tiga persen. Mereka menulis jalan Jokowi yang belum mulus jadi Presiden Republik Indonesia (RI) jadi alasan hengkangnya investor asing.

Seperti ditulis Reuters, langkah Jokowi menuju RI 1 terganjal oleh partai pengusungnya, Partai Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang tidak mendapat suara mayoritas dalam Pemilu Legislatif (Pemilu) Legislatif kemarin.

Hal itu terlihat dalam hasil hitung cepat alias quick count sampai siang ini, di mana PDI-P hanya mendapat sekitar 19% suara dari minimal 20% kursi di DPR atau 25% dari total suara nasional.

Melihat hasil tersebut, maka PDI-P harus membuka diri untuk koalisi jika ingin mengajukan Gubernur DKI Joko Widodo sebagai calon presiden RI di Pemilu Presiden Juli mendatang.

"Hal ini akan menjadi pengaruh yang besar terhadap calon presiden baru, karena harus bisa memetakan situasi di parlemen karena terlibat pada politisi lain di koalisi," kata Philips Vermonte, analis CSIS seperti dikutip Reuters, Kamis (10/4/2014).

Ekonom Takut Pemerintahan Baru Berjalan Lamban

Pasar langsung merespon negatif usai pengumuman hasil hitung cepat atauquick count Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif kemarin. Tak ada pemenang mayoritas dalam pemilu tersebut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah merosot menanggapi hal itu.

Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan punya tanggapan soal kondisi market saat ini. Menurutnya, ekspektasi pasar terhadap perolehan suara partai yang mengusung Joko Widodo menjadi Calon Presiden 2014 yaitu PDIP meleset dari harapan.

"Survei menunjukkan popularitas Jokowi di atas 30% bahkan ada yang di atas 40%. Sehingga PDIP menargetkan bisa memperoleh suara 25-27% di Pileg, tapi ternyata meleset hanya dapat 19% saja, artinya ini harus ada koalisi," terang Fauzi saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Dia menjelaskan, dengan tidak tercapainya perolehan suara mayoritas, otomatis perlu adanya koalisi dengan menggandeng partai lain untuk bisa menghantarkan Jokowi menjadi orang nomor satu di republik ini.

Namun, pemerintahan hasil koalisi ini dikhawatirkan akan berdampak pada hasil kebijakan yang akan dibentuk pemerintahan mendatang.

Ekonom Takut Pemerintahan Baru Berjalan Lamban

Pasar langsung merespon negatif usai pengumuman hasil hitung cepat atauquick count Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif kemarin. Tak ada pemenang mayoritas dalam pemilu tersebut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah merosot menanggapi hal itu.

Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan punya tanggapan soal kondisi market saat ini. Menurutnya, ekspektasi pasar terhadap perolehan suara partai yang mengusung Joko Widodo menjadi Calon Presiden 2014 yaitu PDIP meleset dari harapan.

"Survei menunjukkan popularitas Jokowi di atas 30% bahkan ada yang di atas 40%. Sehingga PDIP menargetkan bisa memperoleh suara 25-27% di Pileg, tapi ternyata meleset hanya dapat 19% saja, artinya ini harus ada koalisi," terang Fauzi saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Dia menjelaskan, dengan tidak tercapainya perolehan suara mayoritas, otomatis perlu adanya koalisi dengan menggandeng partai lain untuk bisa menghantarkan Jokowi menjadi orang nomor satu di republik ini.

Namun, pemerintahan hasil koalisi ini dikhawatirkan akan berdampak pada hasil kebijakan yang akan dibentuk pemerintahan mendatang.

Koalisi Partai Bakal Tentukan Situasi Pasar Modal

Situasi di pasar modal dalam negeri hari ini diwarnai sentimen investor asing yang berkaburan dari lantai bursa. Investor masih akan memantau situasi politik Indonesia dalam beberapa hari ke depan.

Pengamat Pasar Modal dari Recapital Asset Management Pardomuan Sihombing mengatakan, investor akan menunggu koalisi yang terbentuk untuk menentukan investasi ke depan.

"Investor menunggu koalisi yang solid, peta dari koalisi legislatif untuk mendukung pemerintahan yang akan datang," katanya kepada detikFinance, Kamis (10/4/2014).

Koalisi Partai Bakal Tentukan Situasi Pasar Modal

Situasi di pasar modal dalam negeri hari ini diwarnai sentimen investor asing yang berkaburan dari lantai bursa. Investor masih akan memantau situasi politik Indonesia dalam beberapa hari ke depan.

Pengamat Pasar Modal dari Recapital Asset Management Pardomuan Sihombing mengatakan, investor akan menunggu koalisi yang terbentuk untuk menentukan investasi ke depan.

"Investor menunggu koalisi yang solid, peta dari koalisi legislatif untuk mendukung pemerintahan yang akan datang," katanya kepada detikFinance, Kamis (10/4/2014).

Kemenkeu: Pelaku Pasar Saham Berharap 1 Partai Menang Dominan

Hasil Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif ternyata jauh dari perkiraan pelaku pasar modal. Dampaknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menukik tajam 155 poin akibat maraknya aksi jual.

Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan (DJPU Kemenkeu) Robert Pakpahan menuturkan, pelaku pasar saham memang berharap ada satu partai yang menang dengan dominan. Namun hasilnya berkata lain. PDIP yang menduduki nomor satu, hanya memperoleh suara sekitar 20% dalam hitung cepat atau quick count.

"Mungkin tadi market mengharapkan satu partai yang (menang) dominan," ujar Robert di Gedung Djuanda, Kemenkeu, Jakarta, Kamis (10/4/2014)

Sebab, bila satu partai menang dominan menandakan anggota legislatif nantinya juga akan dominan. Sehingga dalam kebijakan pemerintah bisa lebih kondusif menjalankannya. Berbeda dengan koalisi.

Kemenkeu: Pelaku Pasar Saham Berharap 1 Partai Menang Dominan

Hasil Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif ternyata jauh dari perkiraan pelaku pasar modal. Dampaknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menukik tajam 155 poin akibat maraknya aksi jual.

Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan (DJPU Kemenkeu) Robert Pakpahan menuturkan, pelaku pasar saham memang berharap ada satu partai yang menang dengan dominan. Namun hasilnya berkata lain. PDIP yang menduduki nomor satu, hanya memperoleh suara sekitar 20% dalam hitung cepat atau quick count.

"Mungkin tadi market mengharapkan satu partai yang (menang) dominan," ujar Robert di Gedung Djuanda, Kemenkeu, Jakarta, Kamis (10/4/2014)

Sebab, bila satu partai menang dominan menandakan anggota legislatif nantinya juga akan dominan. Sehingga dalam kebijakan pemerintah bisa lebih kondusif menjalankannya. Berbeda dengan koalisi.
Halaman 2 dari 14
(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads