PTBA Butuh US$ 221 Juta untuk Ekspansi Usaha

PTBA Butuh US$ 221 Juta untuk Ekspansi Usaha

- detikFinance
Rabu, 15 Des 2004 18:11 WIB
Jakarta - PT Tambang Batubara Bukit Asam tbk (PTBA) membutuhkan dana sebesar US$ 221 juta untuk ekspansi usaha 4 proyek besarnya. Keempat proyek itu adalah, pengembangan angkutan batubara, PLTU Banjarsari, PLTU Peranap, dan PLTU Banko Tengah.Demikian diungkapkan Dirut PTBA Ismeth Harmaini dalam publik ekspos di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu (15/12/2004). Selain keempat proyek tersebut, PTBA juga telah menyiapkan dana sebasar US$ 18-20 juta untuk mengakuisisi salah satu tambang batu bara di Kalimantan.Ismet menjelaskan untuk proyek angkutan batu bara merupakan pembangunan rel kereta api Tarahan Kertapati yang menjadi jalur angkutan batu bara dari Muara Enim Sumsel ke Lampung. Total program pengembangan angkutan batu bara itu memakan investasi Rp 1,7 triliun.Proyek itu dibangun bersama antara PTBA, PTKA dan PT Indonesia Power (PTIP). Untuk pendanaannya melaui crash programe dimana proyek ini PTBA hanya menyediakan dana sebesar US$ 110 juta. Diharapkan pada Juli 2005 proyek itu sudah bisa dijalankan.Untuk Proyek PLTU Banjarsari direncanakan beroperasi pada pertengahan 2008 tetapi pembentukan konsorsium akan mulai dilakukan pada 2005. Proyek itu dibangun antara PTBA, PTNII, dan PTPJB. Nantinya skenario pendanaan adalah 70 persen pinjaman dan 30 persen equity. Untuk Equity komposisinya PTBA 41 persen, PTNII 39 persen dan PTPJB 20 persen. Total kebutuhan investasi proyek PLTU Banjarsari yang mempunayi kekuatan 2 kali 100 megawatt adalah sebsar US$ 203 juta. Namun menurut Ismeth, PTBA hanya menginvestasikan di proyek Banjar Sari sebesar US$ 24 juta.Untuk PLTU Peranap yang memiliki kekuatan 2 kali 250 megawatt PTBA bekerjasama dengan Indonesia Power dan Pemerintah Propinsi Riau. Skenario pendanaannya 70 persen pinjaman dan 30 persen equity. PTBA hanya akan menjadi pemegang saham minoritas dan akan mengucurkan dana US$ 40 juta. PLTU Peranap direncanakan beroperasi pada pertengahan tahun 2009.Untuk PLTU Banko yang memiliki kekuatan 4 kali 600 megawatt kebutuhan investasinya sebsar US$ 1,6 miliar. PTBA bekerjasama dengan PTNIIE dan China Huadian Developoment. Skenario pendanaannya adalah 85 persen pinjaman dan 15 persen equity. Dimana equity komposisinya adalah PTBA 20,1 persen, PT Indika Inti Energi (PTIIE) 24,9 persen dan China Huadian Development 55 persen. PLTU Banko Tengah direncanakan beroperasi pada tahun 2009. Menurut Ismet, saat ini perusahaan masih menyeleksi penasehat keuangan yang akan dibentuk untuk mengkaji kebutuhan dana tersebut. Alternatif pendanaan yang dipilih bisa melalui penerbitan obligasi, sindikasi perbankan dan kredit pembiayan lainnya.Dividen InterimIsmet juga menjelaskan, perseroan akan membayarkan deviden interim (sementara) untuk tahun buku 2004 sebesar Rp 5,80 per saham atau total Rp 5,5 miliar. Dividen itu akan dibayarkan pada 29 Desember 2004 dimana tanggal daftar pemegang saham yang berhak atas dividen interim akan diumumkan 28 Desember 2004.Kepemilikan saham PTBA saat ini adalah 70,28 persen pemerintah, dan 29,72 persen dimiliki publik.Mengenai Kaltim Prima Coal (KPC) Ismet mengaku saat ini prosesnya masih menggantung. "Dibilang batal juga tidak. Diteruskan juga belum," kata dia.Sebenarnya PTBA tetap menginginkan untuk membeli 51 persen saham KPC. Tapi dari pemerintah jatah PTBA adalah 32,4 persen. Untuk menguasai saham mayoritas itu PTBA harus melakukan joint venture kepada pembeli saham KPC lainnya. (mar/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads