"Secara year to date (Ytd) kenaikan indeks sudah 14,5%, di bawahnya Filipina 14%, Bombay (India), ada Thailand 7% jadi market kita sangat solid," kata Direktur Pengambangan BEI Friderica Widyasari Dewi saat acara Pembukaan Kegiatan Sekolah Pasar Modal (SPM) Reguler 2014 di Gedung BEI, Jakarta, Senin (28/4/2014).
Wanita yang akrab disapa Kiki ini mengklaim, pertumbuhan indeks pasar modal Indonesia merupakan tertinggi di dunia di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang terus berfluktuasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kiki menyebutkan, dengan pertumbuhan indeks yang cukup baik diharapkan juga bisa terus meningkatkan jumlah investor di pasar modal terutama ritel yang saat ini jumlahnya masih minim hanya 450 ribu orang. Peningkatan jumlah investor ritel ini juga sebagai salah satu untuk menambah kepemilikan lokal di pasar modal Indonesia.
"Total investor ritel yang tercatat di KSEI 450 ribu belum termasuk reksa dana. Dulu masih 250 ribu bisa hit, itu aktif semua. Kepemilikan banyaknya asing 63%. Asing itu nggak jelek tapi bagus juga dan ngasih signal juga kalau pasar modal Indonesia bertumbuh, tujuan mengecilkan porsi asing tapi asing juga diperlukan," jelas Kiki.
Dia menambahkan, untuk meningkatkan jumlah investor ritel dilakukan Sekolah Pasar Modal (SPM) yang telah digelar BEI sejak 2006 silam.
"Dimulai sejak 2006, program ini lebih efektif dibanding seminar. Kalau seminar itu hanya 2 jam terus orang lupa. Setelah ini harapannya ada kepercayaan diri masuk ke pasar modal. Dari kalangan akademisi lebih suka belajar, Rp 100.000, Rp 500.000 itu lebih baik untuk investasi agar masa depan lebih baik," tutup Kiki.
(drk/ang)











































