Laba Fantastis Grup Bakrie Setelah Geser Fokus Bisnis

Laba Fantastis Grup Bakrie Setelah Geser Fokus Bisnis

- detikFinance
Selasa, 06 Mei 2014 07:20 WIB
Laba Fantastis Grup Bakrie Setelah Geser Fokus Bisnis
Jakarta - PT Bakrie dan Brothers Tbk (BNBR) baru saja meraup laba Rp 665 milar di tiga bulan pertama 2014, melonjak 15.267%. Pindah haluan bisnis mulai memperlihatkan hasilnya.

Emiten berkode BNBR ini akan lebih fokus pada perkuatan bidang usaha berbasis manufaktur dan pengembangan infrastruktur setelah sebelumnya mengandalkan sektor lain seperti pertambangan, sawit, properti, dan lain-lain.

Kedua bidang usaha tersebut dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan kontribusi besar bagi kinerja BNBR dan manajemen berharap kontribusinya semakin besar di masa mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada menilai langkah BNBR untuk mengubah fokus bisnisnya ke manufaktur dan infrastruktur sudah tepat. Permintaan atas bahan bangunan masih akan terus naik dalam beberapa tahun ke depan.

"Tapi apakah kinerja positif ini bisa bertahan lama? Itu nanti tergantung dair kemampuan manajemen untuk mempertahankan kinerja ini," katanya kepada detikFinance, Senin (6/5/2014).

Kiprah Grup Bakrie di industri manufaktur dimulai dengan industri pipa baja di tahun 1959, saat ini divisi industri manufaktur terus berkembang menjadi PT Bakrie Building Industries (BBI) yang memproduksi aneka bahan bangunan untuk kebutuhan usaha properti dan konstruksi, PT Bakrie Autoparts (dahulu bernama PT Bakrie Tosanjaya) yang memproduksi komponen otomotif.

Selain itu ada PT Bakrie Metal Industries (BMI) yang meliputi PT Bakrie Pipe Industries (BPI) yang memproduksi pipa berbahan baku besi dan baja. Selain pipa baja, BMI juga menangani bisnis konstruksi baja dan fabrikasi di bawah unit PT Bakrie Construction (BCons). Di bidang infrastruktur, ada PT Bakrie Oil & Gas Infrastucture dan PT Bakrie Toll Indonesia.

"Pertumbuhan di triwulan I ini memang sejalan dengan pertumbuhan di sektor manufaktur dan infrastruktur," ujarnya.

Namun kinerja BNRB ke depan masih harus diperhatikan dengan baik. Karena banyak anak-anak usaha Grup Bakrie dengankinerja yang variatif, beberapa masih rugi namun ada juga yang sudah tumbuh positif.

Salah satu yang positif di triwulan I-2013 adalah PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) yang baru saja melaporkan laba sebesar Rp 296 miliar, bandingkan dengan rugi Rp 63 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

Membaiknya kinerja UNSP didorong oleh membaiknya harga komoditas minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) dunia. Penjualannya meningkat 37%, dari Rp 481 miliar di triwulan-1 2013 menjadi Rp 659 miliar tahun ini.

Begitu halnya dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang meraup laba Rp 210,7 miliar di tiga bulan pertama 2014, lebih baik dibandingkan periode yang sama rugi Rp 97,5 miliar.

Namun kinerja perusahaan tambang Bakrie belum pulih, seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang masih mencatat rugi US$ 28,18 juta, ruginya makin besar dibandingkan posisi tahun sebelumnya US$ 16,1 juta.

"Dia (Grup Bakrie) masuk ke infrastruktur ini cukup positif, tinggal manajemen melihat dan meraih pangsa pasar. Karena sejalan dengan MP3EI jadi sektor ini sudah terjamin dan tinggal menunggu waktu saja," ujarnya.



(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads