Laporan kinerja yang mengejutkan banyak pihak itu disampaikan pekan lalu, Selasa 29 Mei 2014. Kala itu saham BNBR tidak bergerak, tetap berada di titik terendah yaitu Rp 50 per lembar.
Selang satu pekan, pada penutupan perdagangan kemarin, saham BNBR tetap gocap alias Rp 50 dalam bahasa hokien. Kinerja positif sepertinya belum mendongkrak kinerja saham Bakrie and Brothers.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sahamnya belum ada pergerakan, jadi tidak recomend. Mungkin kalau nanti ada pergerakan akan smooth dulu, dari Rp 50 ke Rp 52, lalu ke Rp 60. Kalau sudah terbentuk tren, baru pelaku pasar akan mulai melihat ada kehidupan di sana," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada kepada detikFinance, Senin (6/5/2014).
Sampai saat ini, kata Reza, tren tersebut belum terbentuk. Investor masih menunggu kinerja triwulanan BNBR berikutnya.
Menurutnya, lonjakan laba yang sangat tinggi ini baru terjadi satu kali dan mengangetkan pelaku pasar. Investor masih bertanya-tanya bagaimana kinerja berikutnya, apakah untungnya kembali tumbuh atau malah turun lagi.
"Mereka (investor) akan melihat apakah ada stabilitas di sini, apakah kinerjanya bisa bertahan," tambahnya.
Pasalnya, kinerja anak-anak usaha Grup Bakrie masih variatif, beberapa masih rugi namun ada juga yang sudah tumbuh positif.
Sudah lama saham BNBR bercokol di titik terendahnya, yaitu sejak tiga tahun lalu. Harga sahamnya jauh di bawah harga initial public offering (IPO) yaitu di Rp 7.975 per lembar.
Imbal hasil alias keuntungan investasi dari saham ini masih stagnan dalam satu tahun terakhir. Bahkan dalam tiga tahun terakhir imbal hasilnya minus 24,24% atau turun 16 poin.
(ang/ang)











































