Selain itu, Bank Mandiri juga memberikan fasilitas treasury line senilai US$10 juta kepada Semen Padang untuk memperkuat likuiditas valas perusahaan.
Penandatanganan perjanjian pinjaman dilakukan oleh Executive Vice President Corporate Banking Bank Mandiri Didiek Hartantyo dan Direktur Utama Semen Padang Munadi Arifin serta disaksikan Senior EVP Transaction Banking Bank Mandiri Rico Usthavia Frans dan Direktur Keuangan Semen Indonesia Ahyanizzaman.
Menurut Rico, seluruh komitmen pinjaman tersebut merupakan bagian dari upaya perseroan dalam mendukung ekspansi bisnis Semen Indonesia Group, khususnya Semen Padang, melalui peningkatan kapasitas produksi dan pengelolaan keuangan yang lebih baik sehingga mampu menopang pembangunan infrastruktur di Tanah Air.
”Langkah ini merupakan bagian dari komitmen kami menyediakan pendanaan bagi peningkatan kapasitas produksi industri semen nasional guna mendukung pembangunan infrastruktur,” ungkap Rico dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (8/5/2014).
Rico menambahkan, Bank Mandiri berkeinginan untuk dapat berkontribusi secara optimal pada pembangunan sektor industri, khususnya industri manufaktur, yang dapat meningkatkan daya saing nasional, terlebih menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun depan.
Hingga tiwulan pertama 2014, pembiayaan Bank Mandiri ke sektor industri manufaktur telah mencapai Rp81,6 triliun, tumbuh 16,59% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara khusus untuk industri semen, kucuran kredit Bank Mandiri hingga akhir Maret 2014 telah mencapai Rp2,1 triliun, naik 3,7% dari Maret 2013.
Sementara itu, Direktur Utama Semen Padang Munadi Arifin mengatakan, kerjasama finansial dengan Bank Mandiri dapat mendukung ekspansi bisnis Semen Padang melalui peningkatan kapasitas produksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penambahan pabrik baru, lanjut Munadi, merupakan hal mutlak bagi Semen Padang saat ini, untuk meningkatkan daya saingnya di tengah ketatnya kompetisi perusahaan semen di Indonesia. Di saat meningkatnya demand (permintaan) semen nasional, market share Semen Padang terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Penurunan market share Semen Padang itu terjadi akibat kapasitas produksi Semen Padang yang sudah sangat terbatas, sehingga memberikan kesempatan masuknya pesaing lain.
Sejak tahun 2006 market share Semen Padang di Sumatera cenderung mengalami penurunan, pada 2006 sebesar 49,8, turun menjadi 49,08 (2007), 47,52 (2008), 45,13 (2009), 44,76 (2010), 43,13 (2011), 44,24% pada 2012, dan 45,24%. Secara nasional, market share Semen Padang turun dari 11,95 % pada 2012, menjadi 11,94 % pada 2013.
Kapasitas produksi Semen Padang saat ini sebesar 6,5 juta ton per tahun, dari empat pabrik yang beroperasi (Indarung II, III, IV, dan V). Sementara satu pabrik lagi, yakni Indarung I sudah berhenti beroperasi mulai tahun 1999.
Munadi mengungkapkan, Semen Padang selama 16 tahun terakhir tidak melakukan penambahan kapasitas melalui pembangunan pabrik baru, setelah Pabrik Indarung V yang diresmikan pada 16 Desember 1998.
Kebutuhan Semen Nasional 73,55 Juta Ton di 2017
Pesatnya pembangunan nasional mendongkrak kebutuhan semen dalam negeri. Dengan asumsi pertumbuhan sebesar 6% per tahun, konsumsi semen pada tahun 2017 nanti diprediksi menembus angka 73,55 juta ton.
Jumlah itu jauh lebih besar dibanding besaran konsumsi tahun 2013 lalu yang hanya mencapai 58 juta ton. Untuk itu pada masa mendatang diperlukan penambahan kapasitas produksi agar tidak menghambat pembangunan nasional.
"Jika tak ada penambahan kapasitas, dikhawatirkan terjadi shortage semen pada masa mendatang yang akan menghambat pembangunan nasional," kata Direktur Utama Semen Indonesia, Dwi Soetjipto dalam keterangannya.
"Dengan prospek seperti itu, industri semen menempati posisi strategis dan Perseroan (PT Semen Indonesia), mengantisipasi peluang ini dengan menerapkan perpaduan strategi mulai dari hulu sampai hilir,” sambungnya.
Diungkapkan, Strategi utama Semen Indonesia adalah meningkatkan kapasitas dengan penambahan kapasitas (upgrading) pada pabrik-pabrik yang telah beroperasi dan pembangunan pabrik baru. Rencananya ada 2 pabrik yang akan dibangun, yaitu di Rembang, Jawa Tengah dan Sumatera Barat yang masing-masing berkapasitas 3 juta ton.
Strategi lainnya dilakukan dengan mengakuisisi perusahaan semen maupun menjajaki potensi kemitraan melalui pembentukan perusahaan patungan (joint venture). Dengan perpaduan strategi tersebut, Perusahaan BUMN itu menargetkan kapasitas produksi mencapai 40,8 juta ton pada 2017.
Grup Semen Indonesia yang terdiri dari Semen Padang, Semen Tonasa, Semen Gresik, dan Thang Long Cement Vietnam telah menyiapkan strategi terpadu untuk memperkuat kinerjanya.
”Dengan sejumlah strategi yang telah dan akan dijalankan, kami ingin memastikan percepatan pertumbuhan bisnis keberlanjutan. Perseroan optimistis tetap tampil sebagai market leader di industri semen nasional, bahkan mengembangkan pasar di luar negeri," jelasnya.
(drk/ang)











































