Bagaimana pelaku pasarΒ menantikan debat ini? "Keduanya sama-sama mengusung ekonomi kerakyatan. Mungkin yang akan membedakan adalah pelaksanaan," kata Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker, kepada detikFinance, Minggu (15/6/2014).
Berkaca pada debat jilid I, lanjut Satrio, pelaku pasar melihat ada perbedaan mendasar antara dua kubu ini. "Kalau Prabowo, kelihatannya lebih pada konteks ide, konseptual. Namun Jokowi dinilai sebagai orang lapangan, menekankan kepada praktik," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasar modal, menurut Satrio, punya sejumlah keunggulan. Pertama adalah transparansi. Apapun yang dilakukan emiten harus dilaporkan dan diketahui oleh pemegang saham. "Bahkan iklan pun harus dilaporkan dalam keterbukaan informasi," ujarnya.
Kedua adalah akses pendanaan. Pasar modal menawarkan pendanaan bagi perusahaan, bahkan perusahaan berskala menengah-kecil pun bisa masuk melalui penawaran saham perdana (IPO).
Ketiga, pasar modal juga melindungi 'wong cilik' dalam artian investor minoritas. "Dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), kehadiran dan persetujuan investor minoritas menentukan apa yang akan dilakukan oleh emiten ke depan," tutur Satrio.
Keempat, demikian Satrio, pasar modal juga membuka lapangan kerja meski tidak semasif sektor riil. "Sudah banyak juga orang yang bekerja di pasar modal. Tentu harus diperhatikan," ucapnya.
(hds/hds)











































