Pasalnya, menurut pelaku pasar modal sekaligus mantan Ketua Asosiasi Emiten Indonesia Airlangga Hartarto, industri keuangan menyumbang pertumbuhan ekonomi yang tidak sedikit meski pemainnya masih minim.
Maka dari itu ia tidak berharap industri keuangan akan dibahas dalam debat maupun kampanye masing-masing capres, karena urusan pasar modal ini lebih penting dibahas setelah presiden baru terpilih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berharap Presiden RI yang baru nanti bisa menggenjot jumlah investor insitusi yang saat ini jumlahnya sekitar 400.000 menjadi satu juta. Investor institusi ini yang paling kuat menopang pertumbuhan pasar modal,
"Harapan kita presiden baru memperdalam struktur pasar modal, caranya dengan menambah jumlah pelaku pasar hingga mencapai satu juta investor institusi," ujarnya.
Selama ini orang tidak banyak tahu apa saja perusahaan investasi lokal, tidak seperti di luar negeri. Apalagi para pemain besar yang selama ini jadi investor institusi besar, contohnya Jamsostek, berubah menjadi badan nanti pola investasinya dibatasi.
"Selama ini tidak pernah transparan juga yang namanya investor institusi itu siapa saja, tidak seperti di luar negeri. Pasar modal akan tidak berkembang kalau investor institusinya tidak tumbuh. Kita tidak bisa mengandalkan investor ritel," ujarnya.
Ia menambahkan, jika ingin ekonomi tumbuh lebih cepat maka dibutuhkan investasi jangka panjang. Investasi jangka panjang ini bisa didapat melalui pasar modal oleh investor institusi.
"Selama ini kan investasi di kita selalu jangka pendek, seperti simpan uang di perbankan," tambahnya.
Seperti diketahui, akhir pekan lalu dua capres RI telah menjalani debat kandidat bertema 'Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial'. Debat ini dimoderatori oleh Ahmad Erani Yustika, Guru Besar Ekonomi Universitas Brawijaya.
Kedua capres banyak membicarakan ekonomi kerakyatan, dari Jokowi dengan kartu sehatnya, sampai Prabowo yang berniat mengutamakan kesejahteraan para petani.
(ang/dnl)











































