Menurut Agus, faktor geopolitik dunia, khususnya ketegangan di Irak menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Kondisi di Irak menimbulkan kepanikan akan pasokan minyak dunia dan membuat harga minyak naik. Indonesia sebagai importir minyak tentu akan terkena dampaknya. Permintaan dolar makin meningkat karena harga minyak naik, ini menekan nilai tukar rupiah.
Faktor lain yang menekan rupiah adalah soal laporan inflasi yang meningkat di Amerika Serikat. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa bank sentral AS yaitu The Fed akan menaikkan suku bunga acuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, pelaku pasar ekonomi juga khawatir tingginya harga minyak bakal membuat neraca perdagangan Indonesia negatif.
Agus marto juga mengatakan, selain kondisi tadi, persaingan politik dua pasangan capres-cawapres saat ini juga ikut mempengaruhi. Namun dampak kondisi politik dalam negeri ini tidak besar pengaruhnya dibanding kondisi ekonomi dunia tadi.
"Saya rasa secara konsisiten dari dua kandidat itu meyakini untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkesinambungan, Indonesia akan tetap mengundang investasi asing. Walaupun di dalam sekali sesaat dalam pidato ditangkap tidak seperti itu, pesan mereka jelas ingin menumbuhkan Indonesia ke arah yang berkesinambungan dan tetap mengundang peran daripada investasi asing," papar Agus Marto.
(dnl/hen)











































