"Target pendapatan tahun ini sekitar Rp 4,3 triliun. Jadi meningkatnya tidak terlalu banyak dibandingkan tahun lalu. Pendapatan tertinggi dari sektor properti development hampir 70% di sana. Serpong paling besar, hampir separuh," ungkap Direktur Utama Summarecon Johanes Mardjuki usai Public Expose Rapat Umum Pemegang Saham di Cangkir Room, Gedung Klub Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (19/06/2014).
Johannes beralasan penurunan kondisi perekonomian di tahun 2013 masih akan memberikan dampak terhadap kondisi perekonomian di tahun 2014. Selain itu kenaikan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate sepanjang tahun 2013 sebesar 175 bps menjadi 7,5% serta peraturan baru Bank Indonesia terkait pengetatan pemberian izin Kredit Kepemilikan Properti (KPP) memberikan dampak melambatnya laju pertumbuhan penjualan properti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun dirasa cukup berat, Johannes optimis tahun ini Summarecon bisa mendapatkan marketing sales hingga Rp 4,5 triliun. Hingga bulan Mei 2014, Summarecon berhasil mendapatkan marketing sales sebesar Rp 2 triliun masing-masing didapat dari Rp 1 triliun penjualan unit Summarecon Serpong dan Rp 1 triliun didapat dari unit penjualan Summarecon Bekasi.
Hingga saat ini, total aset perusahaan sebesar Rp 13,69 triliun atau meningkat dibandingkan tahun 2012 yang hanya Rp 10,8 triliun. Ada beberapa proyek yang akan dibangun Summarecon seperti hotel, properti dan unit usaha lainnya tahun ini
"Akhir tahun ini kita launching Summarecon Bandung. Di tahun ini juga ada beberapa proyek baru yaitu Summarecon Digital Center seluas 30.000 meter persegi di kawasan Summarecon Serpong. Kemudian kita bangun Pop Hotel di Sumarrecon Kelapa Gading dengan kapasitas sebanyak 260 kamar, Harris Hotel di Sumarrecon Bekasi dengan kapasitas 300 kamar, kemudian kita bangun juga hotel di Bali," jelasnya.
(wij/ang)











































