Direktur Utama BEI Ito Warsito menyebutkan, salah satu cara untuk bisa meningkatkan jumlah investor yaitu melalui diaspora atau masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri yang angkanya cukup tinggi.
"Saat ini jumlah investor saham lebih dari 400 ribu, masih sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk. Diaspora ini ada potensi menjadi investor di pasar modal Indonesia," ujar Ito saat acara Talkshow "Tapping the Diaspora: Potential Investment Inflow for Indonesia's Capital Market," di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (20/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlah remitance orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, remitansi mencapai Rp 92 triliun transaksi per tahun," katanya.
Ito menyebutkan, hingga saat ini posisi arus modal asing masuk melalui pasar modal mencapai Rp 44 triliiun. Angka ini berpotensi bisa lebih tinggi jika banyak diaspora yang masuk ke pasar modal Indonesia.
"Tahun ini year to date net buy asing Rp 44 triliun, lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini tahun yang sangat bagus. Itu belum menghitung potensi dari Indonesia diaspora network global yang masih bisa bertambah. Buat BEI tidak ada masalah apakah dari dalam atau luar negeri karena pada dasarnya untuk menambah likuiditas," ujarnya.
Di tempat yang sama, Presiden Indonesia Diaspora Network Global Muhamad Al-Arif menyebutkan, jumlah diaspora yang mencapai 5,6 juta orang dimungkinkan bisa ikut mendorong pergerakan pasar modal Indonesia.
"Anggota diaspora ada 4,6 juta yang masih WNI dan 1 juta non WNI yang tersebar di seluruh pelosok dunia, ini pasar potensial untuk mengembangkan pasar Indonesia terlebih setelah 9 Juli mendatang. Anggota diaspora punya potensi, mereka mampu secara finance," pungkasnya.
(drk/ang)











































