Hal itu diungkapkan Profesor Didin S. Damanhuri dalam diskusi ekonomi di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (26/6/2014). Menurut Didin pembelian kembali saham Indosat dinilai sulit karena beberapa faktor.
"Rugi besar kan (Indosat) sekarang. Mahal itu (saham Indosat) karena sudah dibeli Qatar. Nah, itu memang perlu strategi khusus, buyback tidak mudah," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah diingatkan sekarang banyaknya penyadapan karena kita tidak bisa mengelola telekomunikasi. Dijual itu kesalah besar," ujarnya.
Rencana buyback itu sangat mungkin dilakukan, kata Didin, tapi harus jelas dulu sumber pendanaannya. Pembelian itu juga tidak mungkin dilakukan memakai dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (ABPN).
"Buyback memungkinkan, tapi dananya dari mana? Besar sekali, tidak mungkin dari APBN. Dari BUMN tidak bisa. Bukan tidak mungkin tapi sangat sulit, harus dirumuskan," katanya
Saat ini Pemerintah Indonesia pegang 14,29% saham Indosat, sedangkan mayoritasnya dikuasai Ooredoo Asia Pte Ltd (Qatar Telecom) sebanyak 65%. Sisanya sekitar 20,71% beredar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Jika Jokowi ingin merebut Indosat kembali jadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), berarti ada sekitar 65% yang bisa dibeli kembali. Kira-kira berapa harga 65% saham Indosat tersebut?
Mengacu kepada harga saham Indosat per Rabu kemarin di Rp 3.880, maka harga 65% atau 3,53 juta lembar sahamnya adalah Rp 13,6 triliun. Nilainya ini lebih tinggi dari dana yang didapat pemerintah waktu menjual 41,94% saham Indosat sebesar Rp 5,62 triliun.
(ang/dnl)











































