"Rencana tahun depan pada semester satu. Target dananya Rp 500 miliar," kata Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro di Kantor Pusat RNI, Jakarta, Kamis (26/6/2014).
Untuk memuluskan rencana itu, terlebih dahulu anak usaha RNI lainnya PT Mitra Rajawali Banjaran (MRB) dimerger ke Phapros. MRB adalah anak usaha RNI yang memproduksi produk alat kesehatan hingga kondom Artika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saham RNI di Phapros bisa jadi 75-85%. Itu sebelum IPO," jelasnya.
Di tempat yang sama, Dirut Phapros Iswanto menerangkan untuk memuluskan rencana produsen produk antimo hingga kondom tersebut, Phapros akan menggandeng BUMN sebagai penjamin emisi.
"Penjamin emisi baru bidding. Ada tiga. Semuanya BUMN yakni Bahana, Mandiri dan Danareksa," jelasnya.
Dana segar hasil IPO rencananya dipakai untuk pengembangan pabrik obat. Phapros memprediksi akan terjadi lonjakan permintaan obat dengan berjalannya program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.
"Untuk pengembangan pabrik baru di Bawen (Semarang). Itu kapasitas besar untuk persiapan BPJS. Ini meningkatkan 2 kali," paparnya.
Phapros juga bersinergi dengan organisasi dokter untuk mendirikan rumah sakit di beberapa kota. Saat ini, Phapros sedang membangun rumah sakit di Cirebon Jawa Barat. Pendirian rumah sakit ini dilakukan setelah Phapros sukses mengembangkan pabrik di Bawen.
"Step berikutnya jajaki ke jaringan rumah sakit, setelah pembangunan pabrik. Kita dirikan rumah sakit tapi kerjasama konsorsium dokter. Yang sudah jalan di Cirebon. Kita kerjasama dengan Permata group dan persatuan dokter. Itu sudah ground breaking 1,5 bulan yang lalu," katanya.
Tahun ini, Phapros menargetkan memperoleh pendapatan Rp 630 miliar dengan pencapaian laba bersih Rp 70 miliar. Kinerja keuangan tersebut dicapai, sebelum MRB bergabung ke Phapros.
"Tahun ini sebelum inbreng, pendapatannya Rp 630 miliar, laba Rp 70 miliar," katanya.
(feb/ang)











































