Kisah Rupiah yang Anjlok di Tengah Tingginya Tensi Politik RI

Kisah Rupiah yang Anjlok di Tengah Tingginya Tensi Politik RI

- detikFinance
Jumat, 27 Jun 2014 14:11 WIB
Kisah Rupiah yang Anjlok di Tengah Tingginya Tensi Politik RI
Jakarta - Tingginya tensi politik jelang pemilihan umum presiden (pilpres) 9 Juli tidak hanya terjadi di antara Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Bukan juga hanya pada kubu fanatiknya.

Akan tetapi, kondisi yang disebut pesta demokrasi ini ternyata memberikan dampak buruk terhadap nilai tukar rupiah. Dolar menguat hingga menembus posisi Rp 12.000 dan bahkan nyaris Rp 12.100.

Kondisi ini mungkin dianggap sebagai sesuatu yang sementara atau temporer. Namun tetap saja akan mengancam anggaran negara. Sebab momok subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dimungkinkan membengkak

Kemudian dampak pelemahan juga menimbulkan kekhawatiran dan kebingungan bagi kalangan usaha yang kecil hingga besar. Khususnya pengusaha yang dekat dengan aktivitas impor.

Berikut rangkuman detikFinance, Jumat (27/6/2014) terkait perjalanan rupiah di tengah panasnya tensi politik Indonesia :

Penyebab Jatuhnya Rupiah

Menteri Keuangan Chatib Basri melihat tiga hal penyebab pelemahan nilai tukar rupiah ke level 12.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Tren pelemahan ini telah terjadi sejak bulan sebelumnya.

Pertama, menurut Chatib disebabkan oleh kompetisi politik calon presiden yang semakin ketat. Sehingga dolar AS menguat dari Rp 11.300 ke Rp 11.600. Pasar mengkhawatirkan proses yang panjang untuk memastikan siapa presiden selanjutnya.

"Karena mungkin nanti hasil dari quickcount selisihnya sedikit ya menunggu KPU. KPU mungkin menunggu Mahkamah Konstitusi. Jadi uncertainty itu membuat rupiah melemah," ungkapnya

Kedua adalah efek dari defisit neraca perdagangan pada bulan Maret yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di bulan Mei. Rupiah pun bergerak melemah sampai ke level 11.800/US$.

"Trade deficit membuat rupiah melemah ke 11.800/US$," sebutnya.

Ketiga adalah pengaruh dari global. Khususnya kondisi geopolitik Irak yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Maka dari itu, sampailah dolar AS menyentuh Rp 12.000.

"Nah yang terakhir situasi di Irak yang membuat harga minyak naik , itu yang buat melemah sampai Rp 12.000," tukasnya.

Bila melihat regional kawasan Asia, pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi pada rupiah. Namun juga pada mata uang India, rupee yang juga melemah terhadap dolar.

"Nggak cuma rupiah, rupee juga melemah. Beberapa negara lain juga," katanya.

Penyebab Jatuhnya Rupiah

Menteri Keuangan Chatib Basri melihat tiga hal penyebab pelemahan nilai tukar rupiah ke level 12.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Tren pelemahan ini telah terjadi sejak bulan sebelumnya.

Pertama, menurut Chatib disebabkan oleh kompetisi politik calon presiden yang semakin ketat. Sehingga dolar AS menguat dari Rp 11.300 ke Rp 11.600. Pasar mengkhawatirkan proses yang panjang untuk memastikan siapa presiden selanjutnya.

"Karena mungkin nanti hasil dari quickcount selisihnya sedikit ya menunggu KPU. KPU mungkin menunggu Mahkamah Konstitusi. Jadi uncertainty itu membuat rupiah melemah," ungkapnya

Kedua adalah efek dari defisit neraca perdagangan pada bulan Maret yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di bulan Mei. Rupiah pun bergerak melemah sampai ke level 11.800/US$.

"Trade deficit membuat rupiah melemah ke 11.800/US$," sebutnya.

Ketiga adalah pengaruh dari global. Khususnya kondisi geopolitik Irak yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Maka dari itu, sampailah dolar AS menyentuh Rp 12.000.

"Nah yang terakhir situasi di Irak yang membuat harga minyak naik , itu yang buat melemah sampai Rp 12.000," tukasnya.

Bila melihat regional kawasan Asia, pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi pada rupiah. Namun juga pada mata uang India, rupee yang juga melemah terhadap dolar.

"Nggak cuma rupiah, rupee juga melemah. Beberapa negara lain juga," katanya.

Pengusaha Mulai Khawatir dan Bingung

Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah kembali menguat ke titik Rp 12.000. Kondisi ini telah membuat dunia usaha khawatir dan bingung terutama yang menjalankan usaha bergantung pada kebutuhan impor.

Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan kondisi ekonomi saat ini ini tak hanya dipengaruhi kurs rupiah yang melemah, namun dibarengi kinerja ekspor Indonesia yang juga melemah.

"Tentu mengkhawatirkan, ekspor melemah dan daya beli masyarakat yang lemah. Lalu kita juga dihadapi masalah pengelolaan pemerintahan dalam negeri," katanya kepada detikFinance

Franky menuturkan masalah pengelolaan pemerintahan yang dimaksud adalah target pajak yang tak tercapai, dan belum ada tanda-tanda kebijakan pemerintah yang bisa mendorong dunia usaha menghadapi persaingan regional (ASEAN) agar bisa berdaya saing.

Sementara itu Public Relations and Marketing Event Manager PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) Santo Kadarusman menyampaikan hal sama, menurutnya saat ini dunia usaha bingung dengan kondisi nilai tukar yang berfluktuatif.

Santo mengatakan selama ini berdasarkan pengalaman, setiap rupiah melemah drastis maka pihaknya cenderung wait & see selama 1-3 bulan ke depan. Namun jika tetap dolar tetap diangka Rp 12.000 seperti itu atau bahkan lebih menguat lagi, maka pilihannya adalah mau tidak mau harga jual produk elektronika akan dinaikkan karena beberapa komponen harus impor. Menurutnya setiap pembelian bahan baku elektronika dibeli dengan mata uang dolar AS.

"Itu yang membuat pengusaha bingung, kalau harga nggak dinaikkan, maka nggak dapat untung, sebaliknya kalau naik, khawatir konsumen pindah beli produk pesaing," katanya.

Pengusaha Mulai Khawatir dan Bingung

Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah kembali menguat ke titik Rp 12.000. Kondisi ini telah membuat dunia usaha khawatir dan bingung terutama yang menjalankan usaha bergantung pada kebutuhan impor.

Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan kondisi ekonomi saat ini ini tak hanya dipengaruhi kurs rupiah yang melemah, namun dibarengi kinerja ekspor Indonesia yang juga melemah.

"Tentu mengkhawatirkan, ekspor melemah dan daya beli masyarakat yang lemah. Lalu kita juga dihadapi masalah pengelolaan pemerintahan dalam negeri," katanya kepada detikFinance

Franky menuturkan masalah pengelolaan pemerintahan yang dimaksud adalah target pajak yang tak tercapai, dan belum ada tanda-tanda kebijakan pemerintah yang bisa mendorong dunia usaha menghadapi persaingan regional (ASEAN) agar bisa berdaya saing.

Sementara itu Public Relations and Marketing Event Manager PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) Santo Kadarusman menyampaikan hal sama, menurutnya saat ini dunia usaha bingung dengan kondisi nilai tukar yang berfluktuatif.

Santo mengatakan selama ini berdasarkan pengalaman, setiap rupiah melemah drastis maka pihaknya cenderung wait & see selama 1-3 bulan ke depan. Namun jika tetap dolar tetap diangka Rp 12.000 seperti itu atau bahkan lebih menguat lagi, maka pilihannya adalah mau tidak mau harga jual produk elektronika akan dinaikkan karena beberapa komponen harus impor. Menurutnya setiap pembelian bahan baku elektronika dibeli dengan mata uang dolar AS.

"Itu yang membuat pengusaha bingung, kalau harga nggak dinaikkan, maka nggak dapat untung, sebaliknya kalau naik, khawatir konsumen pindah beli produk pesaing," katanya.

Produsen Elektronika Ancang-ancang Naikkan Harga

Hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melanjutkan tren pelemahan. Mengutip Reuters pada Kamis (26/6/2014), dolar diperdagangkan pada posisi Rp 12.091.

Salah satu industri yang terkena dampak negatif dari pelemahan nilai tukar rupiah adalah elektronika. Menurut AG Rudyanto, Ketua Electronic Marketers Club (EMC), produsen produk elektronika sudah bersiap-siap menaikkan harga jual.

"Sekarang sudah siap-siap naik. Bahkan beberapa merek sudah menginformasikan ke dealer bahwa tangga 1 bulan depan harga akan naik," kata Rudyanto.

Kenaikan harga, lanjut Rudyanto, akan bervariasi tergantung golongan produk. "Untuk televisi yang pasarnya ketat mungkin kenaikannya sedikit. Tapi kalau AC mungkin lebih banyak," ujarnya.

Rudyanto belum bisa memperkirakan besaran pasti kenaikan harga produk-produk elektronika. Namun dia menyebutkan kenaikan harga tidak akan terlalu besar, mengingat bisa berdampak pada penjualan.

"Sejak tahun lalu, harga produk elektronika sudah naik 15-25%. Ini menyebabkan penjualan turun cukup signifikan. Jadi kalau sekarang harga harus naik lagi, sepertinya tidak akan terlalu signifikan," papar Rudyanto.

Penurunan penjualan, menurut Rudyanto, disebabkan daya beli masyarakat yang tidak sekuat dulu. "Sekarang penjualan televisi turun, padahal ada Piala Dunia. Biasanya kalau Piala Dunia penjualan televisi naik," ucapnya.

Oleh karena itu, tambah Rudyanto, produsen produk elektronika sebenarnya berat untuk menaikkan harga. "Tetapi mau bilang apa, memang tidak bisa dihindari. Kalau rupiah melemah harga pasti naik," ujarnya.

Rudyanto berharap pelemahan rupiah kali ini hanya temporer. Dia ingin agar faktor-faktor yang menyebabkan pelemahan kurs segera ditangani.

"Saya berharap para pendukung capres (calon presiden) ini damai saja. Salah satu penyebab rupiah melemah karena ada potensi konflik jelang pilpres (pemilihan presiden). Investor melihat ini sebagai sentimen negatif," tegas Rudyanto.

Produsen Elektronika Ancang-ancang Naikkan Harga

Hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melanjutkan tren pelemahan. Mengutip Reuters pada Kamis (26/6/2014), dolar diperdagangkan pada posisi Rp 12.091.

Salah satu industri yang terkena dampak negatif dari pelemahan nilai tukar rupiah adalah elektronika. Menurut AG Rudyanto, Ketua Electronic Marketers Club (EMC), produsen produk elektronika sudah bersiap-siap menaikkan harga jual.

"Sekarang sudah siap-siap naik. Bahkan beberapa merek sudah menginformasikan ke dealer bahwa tangga 1 bulan depan harga akan naik," kata Rudyanto.

Kenaikan harga, lanjut Rudyanto, akan bervariasi tergantung golongan produk. "Untuk televisi yang pasarnya ketat mungkin kenaikannya sedikit. Tapi kalau AC mungkin lebih banyak," ujarnya.

Rudyanto belum bisa memperkirakan besaran pasti kenaikan harga produk-produk elektronika. Namun dia menyebutkan kenaikan harga tidak akan terlalu besar, mengingat bisa berdampak pada penjualan.

"Sejak tahun lalu, harga produk elektronika sudah naik 15-25%. Ini menyebabkan penjualan turun cukup signifikan. Jadi kalau sekarang harga harus naik lagi, sepertinya tidak akan terlalu signifikan," papar Rudyanto.

Penurunan penjualan, menurut Rudyanto, disebabkan daya beli masyarakat yang tidak sekuat dulu. "Sekarang penjualan televisi turun, padahal ada Piala Dunia. Biasanya kalau Piala Dunia penjualan televisi naik," ucapnya.

Oleh karena itu, tambah Rudyanto, produsen produk elektronika sebenarnya berat untuk menaikkan harga. "Tetapi mau bilang apa, memang tidak bisa dihindari. Kalau rupiah melemah harga pasti naik," ujarnya.

Rudyanto berharap pelemahan rupiah kali ini hanya temporer. Dia ingin agar faktor-faktor yang menyebabkan pelemahan kurs segera ditangani.

"Saya berharap para pendukung capres (calon presiden) ini damai saja. Salah satu penyebab rupiah melemah karena ada potensi konflik jelang pilpres (pemilihan presiden). Investor melihat ini sebagai sentimen negatif," tegas Rudyanto.

Anggaran Subsidi BBM Bengkak

Nilai tukar dolar AS yang kembali menembus Rp 12.000 membuat ancaman baru terhadap anggaran negara. Padahal belum lama ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah menyepakati APBN Perubahan 2014 dengan asumsi dolar AS Rp 11.600.

Komponen yang terancam adalah anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Dari pagu sebesar Rp 246,5 triliun diperkirakan akan melonjak. Mengingat kebutuhan BBM di dalam negeri masih dominan impor.

"Kalau terus melemah maka anggaran subsidi BBM akan terus naik lewati pagu," ungkap Kepala Ekonom Bank Mandiri Destri Damayanti kepada detikFinance, Kamis (26/6/2014)

Seiring dengan hal tersebut, defisit anggaran juga diperkirakan bisa melebar dari 2,4% yang merupakan patokan pemerintah. Meskipun sebenarnya pemerintah tidak akan membiarkan defisit melebihi 2,5% (di luar defisit anggaran dari daerah).

"Budget pemerintah nggak mungkin berani untuk melewati 2,5%. Pasti akan diupayakan di bawah itu," jelasnya.

Β Bila skenario yang terjadi di luar bayangan pemerintah, artinya harus ada kebijakan yang segera diambil. Tentunya tidak dalam posisi untuk peningkatan penerimaan. Sebab pajak yang menyumbang pendapatan terbesar saja sulit untuk mencapai target.

Sehingga yang realistis dilakukan adalah pemotongan belanja. Pada APBN Perubahan ditetapkan anggaran pemerintah yang dipotong adalah sebesar Rp 43 triliun. Destri merasa ada peluang pemotongan anggaran melebihi angka tersebut.

Anggaran Subsidi BBM Bengkak

Nilai tukar dolar AS yang kembali menembus Rp 12.000 membuat ancaman baru terhadap anggaran negara. Padahal belum lama ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah menyepakati APBN Perubahan 2014 dengan asumsi dolar AS Rp 11.600.

Komponen yang terancam adalah anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Dari pagu sebesar Rp 246,5 triliun diperkirakan akan melonjak. Mengingat kebutuhan BBM di dalam negeri masih dominan impor.

"Kalau terus melemah maka anggaran subsidi BBM akan terus naik lewati pagu," ungkap Kepala Ekonom Bank Mandiri Destri Damayanti kepada detikFinance, Kamis (26/6/2014)

Seiring dengan hal tersebut, defisit anggaran juga diperkirakan bisa melebar dari 2,4% yang merupakan patokan pemerintah. Meskipun sebenarnya pemerintah tidak akan membiarkan defisit melebihi 2,5% (di luar defisit anggaran dari daerah).

"Budget pemerintah nggak mungkin berani untuk melewati 2,5%. Pasti akan diupayakan di bawah itu," jelasnya.

Β Bila skenario yang terjadi di luar bayangan pemerintah, artinya harus ada kebijakan yang segera diambil. Tentunya tidak dalam posisi untuk peningkatan penerimaan. Sebab pajak yang menyumbang pendapatan terbesar saja sulit untuk mencapai target.

Sehingga yang realistis dilakukan adalah pemotongan belanja. Pada APBN Perubahan ditetapkan anggaran pemerintah yang dipotong adalah sebesar Rp 43 triliun. Destri merasa ada peluang pemotongan anggaran melebihi angka tersebut.

Dampak Positif, Impor Bakal Melambat

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini masih berlanjut. Dolar AS sampai hampir menyentuh Rp 12.100

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) Mirza Adityaswara menilai dengan pelemahan ini seharusnya dapat menahan laju impor. Karena harga barang yang diimpor juga otomatis akan naik.

"Kalau ada pelemahan rupiah dampak yang paling kelihatan adalah impor akan melemah," ungkap Mirza.

Menurutnya akan menguntungkan bila importasi yang tertahan adalah kelompok barang non produktif. Seperti barang konsumsi, meliputi telepon seluler (ponsel), ataupun makanan olahan.

"Kalau yang melemah itu adalah impor-impor untuk barang yang memang tidak produktif dan konsumtif kan baik," sebutnya.

Di samping itu, neraca perdagangan juga akan terbantu untuk surplus. Sebab akan mendorong ekspor lebih baik dari sebelumnya. Meskipun masih ada ancaman tekanan dari impor minyak.

"Kan kita tahu yang membuat neraca perdagangan sulit suplus adalah neraca minyak," kata Mirza.

Dampak Positif, Impor Bakal Melambat

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini masih berlanjut. Dolar AS sampai hampir menyentuh Rp 12.100

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) Mirza Adityaswara menilai dengan pelemahan ini seharusnya dapat menahan laju impor. Karena harga barang yang diimpor juga otomatis akan naik.

"Kalau ada pelemahan rupiah dampak yang paling kelihatan adalah impor akan melemah," ungkap Mirza.

Menurutnya akan menguntungkan bila importasi yang tertahan adalah kelompok barang non produktif. Seperti barang konsumsi, meliputi telepon seluler (ponsel), ataupun makanan olahan.

"Kalau yang melemah itu adalah impor-impor untuk barang yang memang tidak produktif dan konsumtif kan baik," sebutnya.

Di samping itu, neraca perdagangan juga akan terbantu untuk surplus. Sebab akan mendorong ekspor lebih baik dari sebelumnya. Meskipun masih ada ancaman tekanan dari impor minyak.

"Kan kita tahu yang membuat neraca perdagangan sulit suplus adalah neraca minyak," kata Mirza.
Halaman 2 dari 12
(mkl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads