Masyarakat Masih Suka Pakai Dolar AS Meski Kursnya Naik Tinggi

Masyarakat Masih Suka Pakai Dolar AS Meski Kursnya Naik Tinggi

- detikFinance
Senin, 30 Jun 2014 16:38 WIB
Masyarakat Masih Suka Pakai Dolar AS Meski Kursnya Naik Tinggi
Jakarta - Meningkatnya tingkat ekonomi masyarakat seiring perkembangan zaman, mendorong akses masyarakat terhadap negara lain juga meningkat. Ujung-ujungnya transaksi penggunaan valuta asing (valas) meningkat.

Di antara maraknya valas yang beredar di dalam negeri, dolar Amerika Serikat (AS) yang paling sering digunakan. Berbagai alasan dilontarkan masyarakat mengapa mereka gemar melakukan transaksi untuk mata uang asal negeri Paman Sam ini.

Salah satunya seperti yang diungkapkan Sabil saat ditemui detikFinance usai melakukan transaksi valas di PT Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (30/6/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sabil menuturkan, kemudahan mata uang ini untuk diterima hampir di semua negara, membuatnya gemar menggunakan dolar AS.

"Tadi beli dolar dolar AS, ini butuh untuk transaksi. Saya kan beli barang dari luar jadi buat pembayarannya perlu dolar AS. Kalau pake dolar AS itu lebih gampang, karena semua negara pasti terima. Misalkan kita beli barang pakai kurs lain, kita kasih dolar AS juga mereka terima, nanti biar mereka yang tukar sendiri ke mata uangnya," papar dia.

Dirinya menuturkan, tidak ada hari khusus baginya untuk melakukan transaksi namun dirinya menjelaskan, untuk mendapatkan harga beli yang lebih baik, biasanya dapat dilakukan pada pagi hari. Karena, lanjut dia, biasanya belum banyak orang yang melakukan transaksi di pagi hari.

"Saya beli ya kalau butuh ya beli, tidak bisa ditunda lah, kan untuk pembayaran itu jalan terus. Tapi kalau mau beli kalau bisa pagi, harganya lebih bagus (lebih murah)," kata dia.

Alasan lain diungkapkan pengunjung lain bernama Salma, dirinya datang untuk menjual valas. Salma mengaku tidak sering melakukan transaksi sehingga dirinya tidak memperhatikan berapa besar perubahan nilai valas secara harian.

"Saya tukar dolar, memang ingin tukar saja, tidak tergantung dengan kurs sedang berapa. Karena kan memang kemarin saya dari luar (negeri) butuh untuk ini itu (belanja dan transaksi lainnya) selama di sana. Kalau di Indonesia kan tidak perlu lagi jadi saya tukar lagi ke rupiah," kata dia.

Salma mengaku tidak ingin menhan valasnya terlalu lama karena khawatir nilainya akan turun. "Saya beberapa kali ke luar negeri, biasanya sampai Indonesia besoknya langsung saya tukar. Kalau nanti-nanti, malah harganya takut jatuh. Kita kan bukan mau invest, karena kemarin memang sedang butuh saja," tuturnya.

Beda halnya dengan Jali, seorang pengunjung lainnya. Jali menuturkan bahwa kehadirannya untuk menukarkan valas merupakan tugas rutinnya selama 1 pekan sekali untuk memenuhi kebutuhan transaksi tempatnya bekerja.

"Saya beli dolar dolar AS, memang karena disuruh perusahaan saja. Rutin biasanya, nilainya tidak bisa disebut, tapi lumayan. Ini saya rutin biasanya 1 minggu sekali. Tapi kalau mau akhir bulan biasanya kita banyak jual, karena kebutuhan untuk bayar gaji karyawan. Kalau yang satu minggu sekali itu untuk beli-beli barang yang dari luar," kata dia.

Dirinya mengaku, perusahaannya memang seringkali mendapat keuntungan dari pelemahan rupiah, namun tak jarang juga perusahaan harus menutup kerugian akibat mata uang kembali menguat. Untuk itu, dirinya mengaku lebih senang bila nilai tukar rupiah cenderung stabil.

"Kita kan perusahaannya transaksi pakai dolar AS, tapi gaji karyawan kita rupiah. Kalau lagi melemah kita biasanya ada lebih, itu masuk kas perusahaan. Nah, kalau rupiah menguat lagi, nanti yang dari hasil kelebihan sebelumnya kita ambil buat nutup kekurangan. Jadi belum tentu untung juga. Kita senangnya kalau rupiah stabil, jadi kita hitung biaya operasional juga tidak sulit. Repot juga kalau tiap bulan ada perubahan," pungkasnya.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads