Gempa dan Gelombang Tsunami
Bursa Saham Asia Rontok
Senin, 27 Des 2004 12:09 WIB
Jakarta - Selain melemahkan hampir semua mata uang Asia, bencana gempa dan gelombang Tsunami juga merontokkan hampir seluruh bursa utama Asia. Pelemahan saham terutama dipicu oleh melemahnya saham yang berhubungan dengan sektor bisnis perjalanan dan energi.Sejumlah bursa Asia yang langsung rontok pada awal perdagangannya Senin (27/12/2004) diantaranya adaln Nikkei Jepang yang turun 0,19 persen atau 21,34 poin menjadi 11.344,14. Padahal pada perdagangan sebelumnya Nikkei naik 4 persen. Pelemahan Nikkei selain karena aksi ambil untung juga dipicu oleh bencana gempa dan gelombang di Asia yang mengancam bisnis perjalanan. "Pasar baru saja bergerak dan gempa di Indonesia mempengaruhi bisnis perjalanan. Tapi selain itu tidak ada lagi sentimen," ujar Teruhisa Ishikawa, manajer depertemen informasi investasi Mizuho Investment Securities seperti dilansir AFP.Demikian juga di Korsel indeks KOSPI (Korea Composite Stock Price Index) turun 0,66 persen menjadi 874,10. Penurunan terutama terjadi pada saham-saham yang terkait dengan bisnis perjalanan seperti Korean Air yang turun 2,51 persen menjadi 17.450 Won, Asia Airline Inc turun 3,88 persen menjadi 3.470 Won dan Hana Tour turun 0,59 persen menjadi 16.950 Won. Sementara bursa Thailand juga mencatat penurunan sebesar 9,01 poin atau 1,34 persen menjadi 661,34 pada awal perdagangannya Senin ini. Saham yang turun adalah juga yang berhubungan degnan industri pariwisata seperti Royal Garden Resort PCL yang turun 4,7 persen menjadi 2,86 baht. Di Indonesia, pada sesi I perdagangan Senin (27/12/2004) IHSG ditutup menguat tipis 0,040 poin pada level 986,546. Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 8.533 kali pada volume 1.311.585 lot saham senilai Rp 400,301 miliar. Sebanyak 42 saham naik, 43 turun dan 282 stagnan. Namun menurut analis, bencana gempa dan gelombang Tsunami yang melanda wilayah Asia tidak terlalu memberi dampak yang besar ke pasar saham karena bencana itu tidak mengenai pusat-pusat perekonomian Indonesia. Dorongan aksi window dressing akhirnya mampu menutup kekhawatiran dampak bencana itu dan membuat indeks menguat tipis.
(qom/)











































