Saham-saham perusahaan pendukung pasangan calon presiden (capres) nomor urut satu, Prabowo-Hatta, diperkirakan masih akan terkena koreksi. Pasalnya, pasangan capres nomor urut dua, Jokowi-JK, sudah unggul di penghitungan cepat (quick count) sementara.
Menurut Pengurus Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Budi Frensidhy, harga saham perusahaan-perusahaan tersebut akan terkoreksi karena gagal mendapatkan keistimewaan dari capres yang mereka dukung.
"Saham-sahamnya ini kemungkinan bakal terkoreksi dan melemah lagi. Soalnya previlege yang semula diharapkan kalau Prabowo menang tidak akan didapat kalau seandainya Jokowi yang menang," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Sudirman CBB, Jakarta Selatan, Kamis (10/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi bisa dibilang bersih kepemimpinannya, karena dari awal tidak ada kontrak politik," ujarnya.
Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan yang berada di bawah naungan Grup Bakrie dan MNC dari awal sudah berharap adanya keistimewaan jika Prabowo-Hatta terpilih jadi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia (RI).
"Kalau menyangkut saham-saham di kubu Prabowo, seperti saya bilang tadi, misalnya saham Bakrie, kalau Prabowo menang dia akan dapat keistimewaan dari sisi kebijakan yang mendukung bisnisnya dia, sama juga dengan MNC," katanya.
Nah, dengan keistimewaan yang hilang ini akhirnya prediksi kinerja perusahaan juga tidak akan maksimal. Jika kinerja tidak sesuai kinerja maka harga sahamnya bisa turun.
"Kalau kinerja tidak sesuai dengan harapan, pastinya harga sahamnya turun karena pasar kan melihat fundamental. Investor tidak mau dong bayar harga mahal untuk fundamental yang kurang bagus,β jelasnya.
Hari ini saham media milik Grup Bakrie dan MNC anjlok gara-gara menampilkan hasil quick count yang berbeda dengan media lain. Simak beritanya di sini. (ang/dnl)










































