Hasil perhitungan cepat (quick count) sementara sudah menunjukkan calon presiden nomor urut dua Joko Widodo (Jokowi) unggul terhadap capres nomor urut satu, Prabowo Subianto. Namun ada stasiun televisi ada yang menampilkan hasil quick count berbeda.
Stasiun televisi tersebut antara lain TvOne, ANTV, RCTI, MNC TV dan Global TV. Para stasiun televisi itu berada di bawah naungan grup Bakrie dan MNC.
Bagaimana nasib sahamnya pada penutupan perdagangan kemarin? Simak rangkuman detikFinance di sini, Jumat (11/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaku pasar ragu akan kredibilitas media tersebut
|
|
"Sehingga adanya perbedaan itu dikhawatirkan akan mempengaruhi bisnisnya ke depan," katanya kepada detikFinance, Kamis (10/7/2014).
Padahal secara fundamental, kata Reza, perusahaan-perusahaan tersebut tidak mengalami masalah dan berkinerja cukup baik.
"Secara fundamental tidak masalah. Pertumbuhan VIVA tahun lalu lumayan, apalagi tahun ini dengan piala dunia seharusnya pendapatan iklannya bisa naik," ujarnya.
Sayangnya, menurut Reza, bisnis mereka yang sudah bagus itu malah jadi terganggu gara-gara perusahaan diseret-seret kepentingan politik si pemilik perusahaan.
Hasil quick count berbagai lumbaga survei
|
|
1. LSI Denny JA: Prabowo-Hatta 46,7%, Jokowi-JK 53,3%
2. CSIS-Cyrus: Prabowo-Hatta 48,1%, Jokowi-JK 51,9%
3. SMRC: Prabowo-Hatta 47,09%, Jokowi-JK 52,91%
4. Litbang Kompas: Prabowo-Hatta 47,66%, Jokowi-JK 52,34%
5. Indikator: Prabowo-Hatta 47,06%, Jokowi-JK 52,94%
6. RRI: Prabowo-Hatta 47,40%, Jokowi-JK 52,94%
7. Populi Center: Prabowo-Hatta 49,06%, Jokowi-JK 50,94%
8. Poltracking: Prabowo-Hatta 46,63%, Jokowi-JK 53,37%
Sedangkan 4 lembaga survei yang memenangkan Prabowo-Hatta, yaitu:
1. JSI: Prabowo-Hatta 50,16%, Jokowi-JK 49,84%
2. Puskaptis: Prabowo-Hatta 52,05%, Jokowi-JK 47,95%
3. LSN: Prabowo-Hatta 50,19%, Jokowi-JK 49,81%
4. IRC: Prabowo-Hatta 51,11%, Jokowi-JK 48,89%
Stasiun televisi TvOne, ANTV, RCTI, MNC TV dan Global TV memakai 4 lembaga survei terakhir untuk menyatakan pasangan Prabowo-Hatta menang Pilpres 2014.
Strategi bisnis risiko tinggi
|
|
Analis dari Universal Broker, Satrio Utomo, mengatakan penayangan hasil quick count yang berbeda itu merupakan pertaruhan bisnis yang berisiko tinggi bagi perusahaan media.
"Benar atau salahnya (hasil quick count) kan kita belum tahu, yang kita tahu adalah milik mereka berbeda. Ini hanya masalah integritas saja, sebagai perusahaan media kan jualannya kepercayaan," katanya kepada detikFinance, Kamis (10/7/2014).
Ia menambahkan, yang dipertaruhkan para media tersebut di sini adalah integritas. Jika terbukti salah, maka kredibilitas dan harga sahamnya sudah pasti akan jatuh. Tapi di sisi lain, jika mereka benar dan Prabowo jadi Presiden RI, maka keuntungan yang didapat mereka akan jauh lebih besar.
"Bisa dibilang ini risiko tinggi dengan keuntungan yang tinggi juga," ujarnya.
Sebagai perusahaan publik, para stasiun televisi ini dinilai tidak melanggar aturan dan undang-undang dengan memasang data berbeda. Jika ternyata salah, maka sanksinya adalah kehilangan kredibiltas dan jumlah penonton.
"Tidak ada sanksi dari BEI, paling sahamnya turun saja. Ini strategi bisnis saja," ujarnya.
Saham-sahamnya sempat terkoreksi dan stagnan
|
|
TvOne berada di bawah perusahaan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Saham VIVA pada penutupan perdagangan hari ini anjlok 6,72% atau setara 18 poin ke level Rp 250 per lembar.
Sementara ANTV berada di bawah naungan PT Intermedia Capital Tbk (MDIA). Saham MDIA sempat stagnan dan baru naik tipis 5 poin (0,27%) di penghujung perdagangan menjadi Rp 1.885 per lembar.
Sedangkan ketiga stasiun televisi yang disebutkan terakhir berada di bawah PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN). Saham MNCN terpangkas 170 poin (6,23%) ke level Rp 2.560.
Halaman 2 dari 5











































