Pasar keuangan pun menyambut baik kabar ini, sehingga muncul yang namanya Jokowi Effect jilid kedua. Seperti apa efek euforia Jokowi tersebut? Simak hasil penelusuran detikFinance, Jumat (11/7/2014).
IHSG dibuka tembus 5.100
|
|
Managing Partner Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, mengatakan pelaku pasar sudah berharap banyak Jokowi-JK bisa muncul sebagai pemenang dalam pilpres kali ini. Jokowi Effect Jilid 2 mulai terasa.
"Meski dua pasangan bilang mereka unggul dalam quick count, tapi lembaga survei yang menunjukkan Jokowi menang lebih kredibel. Bisa dibilang ini Jokowi Effect jilid dua," katanya kepada detikFinance.
Mengawali perdagangan, Kamis (10/7/2014), IHSG dibuka meroket 134,870 poin (2,68%) ke level 5.160,349. Indeks LQ45 dibuka terbang 32,580 poin (3,79%) ke level 891,434.
Euforia pilpres sangat terasa di lantai bursa, apalagi jagoan pilihan pelaku pasar yaitu capres nomor dua Joko Widodo unggul di hasil hitung cepat sementara. Aksi beli pun terjadi di seluruh saham.
Dolar AS keok, turun hingga Rp 11.500
|
|
Kepala Riset Valuta Asing Malayan Banking Bhd cabang Singapura, Saktiandi Supaat, menyatakan nilai tukar rupiah akan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jika capres nomor urut 2 Joko Widodo yang akhirnya terpilih sebagai presiden Republik Indonesia (RI) periode berikutnya.
"Nilai tukar rupiah bisa menguat menuju Rp 11.300 per dolar AS untuk kemenangan Jokowi," kata Saktiandi dalam risetnya.
Jokowi Effect akan terasa sampai pekan depan
|
|
βSeminggu ini euforia masih akan terasa. Sampai minggu depan masih bisa, setelah itu mulai kempes,β ujarnya kepada detikFinance, Kamis (10/7/2014).
Meski terasa ada euforia, namun ia memperkirakan volume dan nilai transaksi tidak akan terlalu besar. Pasalnya, pelaku pasar sudah melakukan antisipasi dengan masuk ke pasar beberapa hari sebelum pilpres digelar.
βTransaksi belum tentu akan ramai karena pelaku pasar sudah antisipasi. Minggu depan baru mulai profit taking,β katanya.
Dana asing masuk Rp 4 triliun dalam sehari
|
|
nvestor asing beli saham senilai Rp 9,865 triliun, dengan transaksi jual sebesar Rp 5,667 triliun. Dengan demikian asing tercatat beli bersih (foreign net buy) senilai Rp 4,197 triliun.
Halaman 2 dari 5











































