Euforia Pilpres Hanya Sehari, Investor Sadar Rumitnya Politik RI

Euforia Pilpres Hanya Sehari, Investor Sadar Rumitnya Politik RI

- detikFinance
Jumat, 11 Jul 2014 11:19 WIB
Euforia Pilpres Hanya Sehari, Investor Sadar Rumitnya Politik RI
Jakarta - Kemarin, nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan. Investor bergairah pasca pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) yang diyakini hasilnya sesuai dengan ekspektasi pasar.

Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) mayoritas lembaga survei, pasangan nomor urut 2, Joko Widodo-Jusuf Kalla, unggul dari pesaingnya pasangan nomor urut 1, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Ini menjadi salah satu faktor yang membuat investor optimistis, karena Jokowi-JK memang lebih diterima pasar.

Namun hari ini, penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah terhenti bahkan terjadi koreksi. Membuka perdagangan akhir Jumat (11/7/2014), IHSG terpangkas 32,353 poin (0,63%) di posisi 5.065,657. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp 11.615 per dollar AS dibandingkan posisi penutupan perdagangan kemarin di Rp 11.565 per dolar AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juniman, Kepala Ekonom BII, mengatakan koreksi ini menunjukkan euforia pasca pilpres memang hanya berlangsung jangka pendek. "Bisa jadi investor sudah menyadari rumitnya politik di Indonesia, sehingga euforia hanya berlangsung sehari," katanya kepada detikFinance, Jumat (11/7/2014).

Investor, lanjut Juniman, sepertinya mulai tidak lagi digerakkan oleh sentimen non fundamental seperti pilpres. "Sekarang investor mulai rasional, kembali melihat masalah fundamental yang masih menghantui Indonesia," sebutnya.

Menurut Juniman, ada sejumlah sentimen negatif yang kembali diperhatikan oleh investor. Pertama adalah ancaman pembengkakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal II-2014.

"Kami memperkirakan CAD pada kuartal II-2014 akan sebesar 3,97% dari PDB. Meningkat 2 kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya. Ini tentu menjadi sentimen negatif bagi pasar," papar Juniman.

Faktor kedua, tambah Juniman, adalah potensi pembengkakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ini bisa terjadi karena pemerintah memangkas jatah konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dari 48 juta kiloliter menjadi 46 juta kiloliter.

"Namun di sisi lain, penjualan kendaraan bermotor terus naik. Jadi, sangat mungkin kuota konsumsi BBM terlampaui dan defisit APBN bisa membengkak lagi. Dua faktor ini yang menghantui investor untuk memegang aset rupiah," tegas Juniman.

Faktor ketiga, demikian Juniman, datang dari eksternal yaitu masalah di bank terbesar Portugal, Espirito Santo Financial Group. Ini menjadi sentimen negatif global yang membuat investor meninggalkan aset-aset berisiko di negara berkembang dan kembali ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS. "Hal ini membuat mata uang dunia cenderung melemah terhadap dolar AS," ujarnya.

Pekan depan, Juniman memperkirakan volatilitas masih akan tinggi. "Kami perkirakan nilai tukar rupiah untuk pekan depan berada di kisaran Rp 11.500-11.750 per dolar AS. Market masih akan volatile," ucapnya.

(hds/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads