Hitungan Suara Pilpres Belum Final Bikin IHSG dan Rupiah Fluktuatif

Hitungan Suara Pilpres Belum Final Bikin IHSG dan Rupiah Fluktuatif

- detikFinance
Jumat, 11 Jul 2014 15:00 WIB
Hitungan Suara Pilpres Belum Final Bikin IHSG dan Rupiah Fluktuatif
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berfluktuatif.

Analis Pasar Uang Yanuar Rizky menilai, naik-turunnya pasar keuangan Indonesia akan terus berlanjut hingga kepastian hasil perhitungan suara pada 22 Juli 2014 bahkan sampai dengan awal September 2014.

Meskipun hasil hitung cepat (quick count) sementara Pemilihan Presiden (Pilpres) bukan merupakan penggerak utama fluktuasi pasar keuangan, namun sedikit banyak akan tetap berpengaruh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pilpres bukan isu penggerak utama, kalau sentimennya iya. Kemarin naik tinggi, sekarang malah turun. Rupiah dan saham punya elastisitas, jadi ada naik ada turun," kata Yanuar saat dihubungi detikFinance, Jumat (11/7/2014).

Menurut dia, keriuhan soal quick count merupakan persepsi sementara investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Volatilitas akan terus berlanjut hingga kepastian di dalam maupun luar negeri terjawab.

Saat ini, kata Yanuar, aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan investor dinilainya masih dalam batas wajar. Ke depan, aksi ambil untung akan terjadi besar-besaran jika ada isu-isu berlebihan di pasar.

"Jadi ini bukan persepsi permanen. Confident yang bukan permanen. Volatilitas akan terus berlanjut hingga awal September. Tanggal 22 Juli kalau banyak yang mancing-mancing isu berlebihan maka profit taking akan terjadi besar-besaran bisa sampai 10% per minggu. Sekarang kan profit taking masih terbatas hanya sekitar 2-5%," jelas dia.

Apalagi, lanjut dia, hasil hitung cepat hanya punya selisih tipis. Ini memungkinkan hasilnya berbalik arah pada real count 22 Juli 2014 mendatang.

"Kemungkinan Prabowo menang bisa saja terjadi karena ini belum real count. Biasanya seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya kalau margin suara tipis maka dalam real count bisa saja kemungkinan berbalik. Selisih yang tipis ini justru menimbulkan ketidakpastian," kata Yanuar.

Hal ini menurut Yanuar tidak saja terjadi di Indonesia, dalam Pemilu di AS pernah terjadi hal sama.

"Tidak hanya pemilu di dalam negeri, di global juga pernah ada waktu tahun 2.000 saat George W. Bush dengan lawannya. Itu yang menang justru berbeda waktu dalam quick count," ujarnya.

Diperkirakan, IHSG masih akan bergerak di angka 5.000-5.100 dan nilai tukar berada di level Rp 11.400-11.600/US$.

"IHSG akan terus bolak-balik di angka itu. Nilai tukar Rp 11.400-11.600. Ini siapa pun presidennya. Pasar harus siap siapa pun yang akan menang. Jangka panjang melihat apakah kedua kandidat nantinya akan melakukan konsolidasi politik karena tidak ada suara dominan," pungkasnya.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads