Corporate Secretary VIVA Neil R. Tobing mengatakan, turunnya harga saham merupakan hal yang biasa terjadi atau bisa dibilang mekanisme pasar. Ia menampik fluktuasi saham ini ada hubungannya dengan quick count Pilpres.
"Namanya harga saham ya naik turun. Itu mah nggak bisa dihubung-hubungkan," katanya kepada detikFinance, Jumat (11/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harusnya investor melihatnya lebih kepada fundamental saja. Jangan percaya isu-isu. Ini ada yang menggerakkan, yang diuntungkan bandarnya," jelasnya.
Neil percaya secara fundamental kondisi perusahaan sedang bagus-bagusnya. Secara industri, kata Neil, VIVA tumbuh paling tinggi di antara pesaing-pesaingnya.
"Kita secara fundamental bagus. Secara industri kita itu tertinggi pertumbuhannya. Coba bandingkan dengan Trans, Metro, MNC, nggak ada yang pertumbuhannya setinggi kita. Saat ini kita yang terbaik. ANTV saja masuk 3 besar. Jadi yang kita lihat kinerjanya, fundamentalnya jangan isu-isunya," ujarnya.
"Jadi penurunan harga saham saat ini hanya mekanisme pasar saja," jelasnya.
Seperti diketahui, kemarin saham-saham yang menaungi stasiun televisi TvOne, ANTV, RCTI, MNC TV ,dan Global TV mengalami koreksi yang cukup tajam.
Analis menilai anjloknya saham VIVA gara-gara menyajikan hasil quick count Pilpres yang berbeda dengan stasiun televisi lain. Pagi tadi beberapa sahamnya sudah ada yang menguat, kecuali saham VIVA.
(ang/dnl)











































