Direktur PHEI Wahyu Trenggono mencatat, transaksi obligasi pemerintah mengalami penurunan dari Rp 9,03 triliun per hari pada 2013 menjadi Rp 4,88 triliun per hari pada April 2014.
Menurutnya, salah satu faktor penyebab turunnya transaksi ini adalah rencana pemerintah yang menurunkan pertumbuhan ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, lanjut Wahyu, pihanya juga mencatatkan bahwa transaksi harian pada akhir 2013 yang mencapai Rp 890 miliar, langsung mengalami penurunan drastis pada April 2014 menjadi hanya Rp 240 miliar.
Untuk kasus obligasi korporasi, suku bunga tinggi menjadi biang keladi mengapa transaksi ini mengalami penurunan.
Dikatakannya, suku bunga pinjaman yang tinggi membuat perusahaan enggan menerbitkan obligasi. "Kalau pinjam dengan bunga 17%, sedangkan perusahaan belum tentu tumbuh 17%, lebih baik tidak ekspansi," terang Wahyu.
Akibatnya, lanjut dia, obligasi di Indonesia menjadi tidak likuid untuk ditransaksikan sehingga menjadi instrumen investasi yang tidak populer.
Wahyu mencontohkan, ada satu unit obligasi pemerintah yang hanya ditransaksikan tiga kali dalam satu tahun. Volume transaksinya dalam setahun pun hanya mencapai Rp 63 miliar.
Dari seluruh total obligasi yang diterbitkan pemerintah, hanya 26% yang diperdagangkan.
Hal yang lebih buruk terjadi pada obligasi korporasi. Hanya 6% obligasi korporasi yang diperdagangkan. "Bahkan ada yang sudah berbulan-bulan tidak ditransaksikan. Contohnya seri IFR0007 terakhir diperdagangkan pada 28 Maret 2014," tutur Wahyu.
(ang/ang)











































