Bakrie akan Beli 5% saham KPC dari Perusahaan India Rp 2,5 Triliun

Bakrie akan Beli 5% saham KPC dari Perusahaan India Rp 2,5 Triliun

- detikFinance
Selasa, 15 Jul 2014 11:49 WIB
Bakrie akan Beli 5% saham KPC dari Perusahaan India Rp 2,5 Triliun
Ilustrasi Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Grup Bakrie sudah ditawarkan 5% saham di PT Kaltim Prima Coal (KPC) oleh Tata Power Co., perusahaan energi terbesar di India. Perusahaan asal India itu juga akan menjual 30% saham perusahaan energi terafiliasi KPC kepada Grup Bakrie.

Seperti dikutip dari laporan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (15/7/2014), perseroan menegaskan tidak ada perubahan kepemilikan saham perseroan di PT Arutmin Indonesia maupun di KPC.

Nilai transaksi itu diperkirakan mencapai US$ 250 juta atau sekitar Rp 2,5 triliun. Divestasi tersebut akan mengurangi kepemilikan saham Tata Power di KPC menjadi 25 persen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan 51% saham KPC masih dipegang BUMI, perusahaan batu bara milik Grup Bakrie. Sisanya 19% dipegang oleh China Investment Corporation (CIC).

“Penjualan sebagian saham KPC dan perusahaan energi terafiliasinya itu akan memberi tambahan dana kepada perusahaan, Jika transaksi telah terlaksana pun tidak berdampak pada pasokan batu bara pembangkit kami di India," kata Anil Sardana dalam siaran pers Tata Power.

Tata Power akan menggunakan dana hasil penjualan ini untuk bayar utang. KPC merupakan tambang Grup Bakrie dengan luas 90.938 hektar yang rencananya akan dipersempit oleh pemerintah.

"Berdasarkan aturan perundang-undangan, luas wilayah untuk wilayah eksploitasi dibatasi hanya 15.000 hektar, ini di luar wilayah penunjang (seperti jalan, perumahan pegawai, kantor), sekarang ini wilayah mereka terlalu luas, buat apa," kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian ESDM R Sukhyar ditemui di Kantornya, Jumat (11/7/2014).

Berdasarkan Undang-Undang nomor 4 Tahun 2009 Pasal 62 menentukan, pemegang IUP Operasi Produksi Batu Bara diberi wilayah IUP dengan luas paling banyak 15.000 hektar.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads