Menurut Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (FK CSA), Reza Priyambada, secara fundamental perusahaan media Grup Bakrie tersebut dalam kondisi yang baik.
"Kalau dilihat dari sentimen internal malah positif. Mereka kan ada beberapa ekspansi usaha juga, ada Viva+ dan baru saja menyelesaikan hak siar Piala Dunia. Sentimen ini positif," ujarnya, Selasa (16/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun berpesan kepada manajemen VIVA untuk segera berupaya keras memperbaiki sentimen ini karena jika dibiarkan berlarut-larut akan semakin parah.
"Manajemen harus berupaya lebih keras lagi untuk meyakinkan investor kalau fundamental perusahaan mereka sebenarnya baik," ujarnya.
Kemarin setelah sempat menanjak sebentar ke level Rp 233 per lembar, saham VIVA ditutup turun 4 poin (1,78%) ke level Rp 221 per lembar. Padahal perdagangan kemarin ramai dengan aksi beli.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditutup melesat 49 poin atau satu persen dan makin mendekati level 5.100. Saham media Grup Bakrie itu sepanjang hari kemarin cukup aktif diperdagangkan. Sebanyak 558.973 lot sahamnya ditransaksikan sebanyak 2.399 kali dengan nilai Rp 12,6 miliar.
"Karena sentimen politik ini sahamnya jadi dijauhi pelaku pasar," ujarnya.
Pekan lalu Visi Media Asia sudah menjelaskan koreksi saham yang terjadi hanyalah sementara karena fundamental perusahaan saat ini bagus. Bahkan manajemen VIVA mengklaim stasiun televisinya adalah stasiun berita nomor satu di Indonesia.
Manajemen VIVA menegaskan, fluktuasi harga saham perseroan pasca Pilpres tidak berhubungan dengan fundamental perusahaan. Justru pada saat ini kinerja VIVA sangat solid dan manajemen optimistis akan mampu menjaga tren pertumbuhan bisnis yang telah berlangsung selama tiga tahun terakhir.
(ang/ang)










































