Saham-saham Media dan Televisi Tidak akan Melesat Setelah 22 Juli

Saham-saham Media dan Televisi Tidak akan Melesat Setelah 22 Juli

- detikFinance
Rabu, 16 Jul 2014 16:52 WIB
Saham-saham Media dan Televisi Tidak akan Melesat Setelah 22 Juli
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi kembali melesat ke level tertinggi diikuti naiknya sejumlah sektor seperti infrastruktur dan konstruksi. Namun tidak begitu dengan saham sektor media.

Riset analis PT Asjaya Indosurya Securitires, William Suyawijaya mengatakan, pasca pengumuman hasil pemilihan umum presiden (Pilpres) 22 Juli 2014 mendatang, saham sektor media akan kembali ke laju normalnya.

"Saya tidak bilang turun, tetapi kembali ke laju normal. Kenaikannya tidak setinggi beberapa waktu belakangan ini," kata William kepada detikFinance, Rabu (16/7/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari data yang berhasil dikumpulkan detikFinance, memang sejumlah saham emiten di sektor media mengalami kenaikan dalam kurun waktu 1 bulan terakhir sejak tanggal 16 Juni hingga 15 Juli 2014.

Kenaikan tertinggi dicatat saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) sebesar 5,82% dalam kurun waktu tersebut. Sementara kenaikan terendah dicatat PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) yang hanya naik 2,63%. Emiten lain yang sahamnya juga mengalami kenaikan adalah PT Intermedia Capital yang naik 2,72%.

Kenaikan ini, lanjut dia, akan berada pada level normalnya lantaran sejumlah even besar yang selama beberapa waktu belakangan menjadi senjata pamungkas kenaikan saham di sektor ini, sudah mulai selesai berlangsung.

"Kalau saham media, masanya sudah hampir habis, karena pilpres sudah mau selesai, world cup sudah mulai selesai, even-even yang jadi jualan media mulai berkurang jadi kecenderungan berbalik ke normal," jelasnya.

Level normal yang dimaksud, lanjut William adalah kembali ke harga yang terbentu karena fundamental dari masing-masing emiten itu sendiri. "Jadi akan kembali ke harga pasar. Kalau pun ada kenaikan itu dipengaruhi fundamental emiten itu sendiri," sambung dia.

Sementara, terkait saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) yang sempat tertekan oleh isu penayangan hasil hitung cepat yang dianggap tidak kredibel, William berpandangan, pelemahan ini cenderung dikarenakan saham emiten ini memang tengah memasuki masa konsolidasinya.

"Karena kan saham VIVA sudah terlebih dahulu naik. Di saat emiten media lain cenderung stabil, Viva sudah lebih dahulu naik. Sehingga saat yang lain mulai naik, terlihat mencolok sendirian (VIVA) melemah," pungkasnya.

Seperti dikutip dari data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), berikut ini kinerja saham-saham tersebut.Pergerakan saham VIVA pasca Pilpres:
Kamis 10 Juli 2014 turun dari Rp 267 ke Rp 250
Jumat 11 Juli 2014 turun dari Rp 250 ke Rp 234
Senin 14 Juli 2014 turun dari Rp 234 ke Rp 225
Selasa 15 Juli 2014 turun dari Rp 225 ke Rp 221
Rabu 16 Juli 2014 naik dari Rp 221 ke Rp 222

Pergerakan saham MNCN pasca Pilpres:
Kamis 10 Juli 2014 turun dari Rp 2.780 ke Rp 2.560
Jumat 11 Juli 2014 naik dari Rp 2.575 ke Rp 2.635
Senin 14 Juli 2014 naik dari Rp 2.655 ke Rp 2.665
Selasa 15 Juli 2014 naik dari Rp 2.665 ke Rp 2.675
Rabu 16 Juli 2014 naik dari Rp 2.675 ke Rp 2.690

Pergerakan saham MDIA pasca Pilpres:
Kamis 10 Juli 2014 stagnan di Rp 1.885
Jumat 11 Juli 2014 stagnan di Rp 1.890
Senin 14 Juli 2014 naik dari Rp 1.800 ke Rp 1.875
Selasa 15 Juli 2014 naik dari Rp 1.750 ke Rp 1.890
Rabu 16 Juli 2014 turun dari Rp 1.890 ke Rp 1.825

Pergerakan saham EMTK pasca Pilpres:
Kamis 10 Juli 2014 stagnan di Rp 6.000
Jumat 11 Juli 2014 stagnan di Rp 6.000
Senin 14 Juli 2014 stagnan di Rp 6.000
Selasa 15 Juli 2014 stagnan di Rp 6.000
Rabu 16 Juli 2014 stagnan di Rp 6.000

Pergerakan saham SCMA pasca Pilpres:
Kamis 10 Juli 2014 naik dari Rp 3.630 ke Rp 3.720
Jumat 11 Juli 2014 turun dari Rp 3.720 ke Rp 3.620
Senin 14 Juli 2014 turun dari Rp 3.605 ke Rp 3.500
Selasa 15 Juli 2014 naik dari Rp 3.545 ke Rp 3.635
Rabu 16 Juli 2014 naik dari Rp 3.635 ke Rp 3.755

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads