Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, saham berkode MAS itu langsung dibuka jatuh 16%. Sahamnya sempat anjlok 17,8% ke level 0,185 ringgit. Hingga siang ini koreksinya bisa berkurang menjadi hanya 8,8% ke level 0,20 ringgit.
Saham MAS sudah mulai turun sejak insiden menghilangnya pesawat MH370 sekitar 4 bulan yang lalu, atau tepatnya 8 Maret 2014. Pesawat Boeing 777-200 dengan nomor penerbangan MH370 itu hilang di Samudera Hindia bersama 239 orang di dalamnya, dan belum ditemukan sampai sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini insiden kembali terjadi. Pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH17 yang membawa 298 penumpang bertolak dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur.
Ketika melewati wilayah udara Ukraina, pesawat ini tiba-tiba jatuh, diduga ditembak oleh roket yang ditembakkan dari darat. Pasalnya, ketegangan di wilayah perbatasan Ukraina-Rusia itu lagi tinggi-tingginya.
Menurut Analis Maybank Investment Bank, Mohshin Aziz, banyaknya insiden ditambah kondisi keuangan Malaysia Airlines yang berdarah-darah memunculkan spekulasi apakah maskapai tersebut akan bangkrut atau direstrukturisasi.
"Dalam sejarah penerbangan, belum pernah ada maskapai yang mengalami kecelakaan besar seperti ini hanya dalam jangka waktu empat bulan," katanya kepada Dow Jones Newswires, seperti dikutip AFP, Jumat (18/7/2014).
Jatuhnya pesawat ini dikhawatirkan bisa memicu kembali ketegangan antara Ukraina dan Rusia karena saling menyalahkan. Pemerintah AS menduga pesawat Boeing 777 tersebut ditembak oleh rudal yang ditembak dari darat.
Rudal tersebut diduga milik salah satu negara yang menjaga perbatasan dari pesawat militer musuh. Ada 295 orang dalam pesawat tersebut, 11 di antaranya diketahui WNI.
Kemudian 27 warga negara Australia, 23 warga negara Malaysia, 6 warga negara Ukraina, 4 warga negara Jerman, 4 warga negara Belgia, 3 warga negara Filipina, 1 warga negara Kanada dan beberapa yang belum jelas kewarganegaraan atau asal negaranya.
(ang/dnl)











































