IHSG Tumbang, Pasar Saham Bingung Akhir Cerita Pilpres

IHSG Tumbang, Pasar Saham Bingung Akhir Cerita Pilpres

- detikFinance
Selasa, 22 Jul 2014 20:31 WIB
IHSG Tumbang, Pasar Saham Bingung Akhir Cerita Pilpres
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sore ini sempat anjlok hingga 2%, setelah calon presiden Prabowo Subianto menolak pelaksanaan pilpres. Ketidakpastian tinggi muncul ke tengah pelaku pasar.

Sore ini, IHSG terpangkas 43,602 poin (0,85%) ke level 5.083. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke posisi Rp 11.590 per dolar AS.

Kepada Ekonom Bank Mandiri Destri Damayanti menuturkan, awalnya pasar cukup mendapat jaminan pasca kedua kubu sepakat menerima hasil perhitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pemerintah pun menjamin kepastian keamanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasar sudah memperkirakan batas proses pilpres sampai dengan 24 Agustus 2014, saat salah satu pihak mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) atas hasil KPU.

Sehingga, pasca 9 Juli 2014 kondisi pasar juga bergerak lebih tenang dan kondusif.

"Kan sudah diprediksi prosesnya seperti apa dan ending-nya (akhirnya) seperti apa. Makanya pasar juga bergerak tenang dan merespons positif beberapa waktu terakhir," kata Destri kepada detikFinance, Selasa (22/7/2014)

Akan tetapi setelah pernyataan dari Prabowo, kondisinya berubah. Ketidakpastian pun kembali muncul. Karena dari pernyataan tersebut, tidak jelas apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Kalau sudah kayak begini, kan nggak tahu lagi dia mau ngapain. Jadi ending-nya kembali buyar dan membuat pasar bingung," jelasnya.

Destri belum dapat memperkirakan keberlangsungan dari gejolak pasar. Kondisinya sangat tidak menentu dan dimungkinan masih naik-turun. "Market masih banyak ketidakpastian, jadi belum dapat dilihat kapan range yang stabil. Ini masih up and down," sebut Destri.

Ia berharap pemerintah agar segera mengambil tindakan. Karena selain membuat khawatir pasar dan pelaku usaha, masyarakat umum juga akan terkena dampaknya.

"Pemerintah harus turun tangan meredam. Tak cuma pasar, ini kan masyarakat juga makin takut. Apalagi tadi terlihat pernyataannya sangat keras menurut saya dan berapi-api," pungkasnya.

(mkl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads