Kemarin malam, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan pemenang pemilihan presiden (pilpres) 2014. Pasangan nomor urut 2, Joko Widodo-Jusuf Kalla, menjadi pemenang dengan perolehan suara 70.997.883 atau 53,15%. Sementara pasangan nomor urut 1, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, mendapatkan 65.576.44 suara (46,85%).
Proses rekapitulasi suara memang sempat diwarnai aksi walk out dari kubu Prabowo-Hatta. Prabowo memberi pernyataan bahwa kubunya menarik diri dari proses penghitungan suara.
Namun rekapitulasi tetap berjalan. Akhirnya Jokowi-JK ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih oleh KPU.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Rabu (23/7/2014), Reuters mencatat nilai tukar rupiah kala pembukaan pasar berada di posisi Rp 11.510 per dolar AS. Menguat dibandingkan ketika penutupan perdagangan kemarin di Rp 11.590 per dolar AS.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memperdagangkan dolar AS di Rp 11.532,5 untuk jual dan Rp 11.472,5 untuk beli. Sementara di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dolar AS dipatok di Rp 11.468 untuk beli dan Rp 11.682 untuk jual.
Batavia Prosperindo Sekuritas dalam risetnya hari ini menyatakan bahwa selesainya proses pilpres yang memenangkan Jokowi-JK serta tidak adanya masalah legal yang signifikan ini dapat memberikan sentimen positif bagi nilai tukar rupiah. Tidak hanya itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pasar obligasi pun akan merasakan dampak serupa.
"Yang dapat dicermati adalah pembentukan kabinet pemerintah. Selain itu, tim Prabowo-Hatta diberitakan juga akan menggunakan kekuatan parlemen dalam beroposisi dengan pemerintahan Jokowi-JK. Hal ini berpotensi menghambat jalannya pemerintahan, sehingga adanya pengalihan dukungan dari beberapa partai ke kubu pemerintah sangat diharapkan," papar riset tersebut. (hds/ang)











































