Direktur Utama VIVA Anindya N. Bakrie menjelaskan, fluktuasi yang terjadi pada saham VIVA di Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa waktu lalu tidak berkaitan dengan kinerja dan prospek bisnis perseroan.
"Sebagai manajemen kami tidak bisa mengontrol pergerakan saham karena hal itu di luar kontrol perusahaan. Namun, kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan bisnis VIVA tetap solid dan tumbuh secara positif," tegas Anidya dalam siaran pers, Jumat (25/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fluktuasi harga saham di bursa sesungguhnya hal yang biasa. Tetapi kami yakin dengan fundamental yang solid dan strategi bisnis yang kuat, investor yang rasional akan melakukan keputusan investasi yang lebih baik," ujar Anindya.
Analis pasar Modal dari Trust Securities Reza Priyambada mengatakan tingkat kesehatan keuangan VIVA di tahun 2013 rata-rata berada pada level yang dinilai baik. Beberapa rasio yang menggambarkan kesehatan kinerja keuangan, terutama bila dikaitkan dengan utang yang dimiliki VIVA masih dapat dikategorikan baik dan tidak sampai dinilai sangat memberatkan operasional VIVA.
โDengan mengasumsikan VIVA dapat menjaga pertumbuhan kinerja ke depannya dan komitmen dari manajemen yang kuat atas keberlangsungan operasional VIVA ke depannya maka kami menilai manajemen akan dapat menjaga tingkat kesehatan VIVA ke depannya sehingga operasional VIVA dapat berjalan dengan baik,โ kata Reza.
Mengenai pergerakan saham VIVA beberapa hari terakhir, lanjut Reza, lebih disebabkan karena maraknya sentimen negatif dan bukan dari sisi fundamentalnya. Adanya hasil Quick Count Pemilihan Presiden yang berbeda dari media lainnya membuat persepsi pelaku pasar terhadap VIVA menjadi negatif di mana timbul persepsi bahwa dengan tayangan yang berbeda tersebut akan membuat share penonton berkurang dan turunnya rating hingga potensi berkurangnya pendapatan.
Dia menambahkan berdasarkan perhitungan yang dilakukan pihaknya terhadap kinerja keuangan dan dengan proyeksi potensi kinerja yang dapat diraih VIVA, maka didapatkan harga wajar saham VIVA pada kisaran Rp 320-408 yang mencerminkan EV/EBITDA sebesar 4,3x โ 7,0x.
(ang/ang)











































