Perusahaan yang merupakan bagian dari kelompok usaha Bakrie ini menargetkan pendapatan perseroan tumbuh dikisaran 25-30% dibandingkan tahun 2013. Emiten berkode VIVA ini optimistis target keuangannya tahun ini akan terwujud.
"Hasil yang telah dicapai sampai Semester I-2014 sungguh luar biasa dan kami optimistis akan mampu mempertahankan tren pertumbuhan ini sampai akhir tahun," kata Direktur Keuangan VIVA, Sahid Mangudie, dalam siaran pers, Jumat (25/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama periode ini, omzet alias pendapatan VIVA mencapai Rp 1,06 triliun, tumbuh 46,7% daripada periode sama 2013 sebesar Rp 721,77 miliar. Adapun EBITDA perseroan naik 52,8% menjadi Rp 353,02 miliar.
Berdasarkan data Nielsen, belanja iklan bruto di Indonesia sepanjang 2013 mengalami pertumbuhan 21,8% setara dengan Rp19,8 triliun. Sedangkan media televisi menikmati pertumbuhan belanja iklan sebesar 27,6%, setara dengan Rp15,8 triliun.
Sementara itu, pada data MPA menunjukkan posisi pendapatan iklan bersih Indonesia hingga akhir 2013 berada di urutan ketiga setelah Tiongkok dan India namun, persentase iklan bersih terhadap GDP nya dibandingkan negara-negara di ASEAN masih di bawah Thailand, Vietnam, dan Malaysia sehingga masih ada ruang untuk mengalami pertumbuhan.
Besarnya potensi belanja iklan di Indonesia tidak terlepas dari besarnya permintaan masyarakat seiring dengan peningkatan pendapatan per kapita masyarakatnya sehingga dapat dimanfaatkan pada perusahaan pengiklan untuk memasarkan berbagai produknya melalui media.
Meski tahun 2014 pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan sedikit lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya di mana dalam APBN 2014 diproyeksikan berada di level 5,5% dan dalam RAPBN 2015 akan lebih tinggi sedikit di kisaran 5,5%-6%, pertumbuhan tersebut lebih banyak digerakan oleh tingkat konsumsi domestik.
Diperkirakan konsumsi domestik akan tetap kokoh karena ekspektasi pertumbuhan masyarakat kelas menengah (middle income class). Perkiraan adanya pertumbuhan masyarakat kelas menengah tersebut didukung oleh data dari Nielsen, dimana telah dilakukan re-rating terhadap Socio Economic Status (SES) Indonesia.
SES yang didasari dari pengeluaran rumah tangga pada pendapatan sekitar Rp 1-3 juta, mengalami peningkatan antara Rp 250.000 hingga Rp 1 juta per bulannya.
(ang/ang)











































