Sektor Infrastruktur Indonesia Paling Diincar Investor Rusia

Sektor Infrastruktur Indonesia Paling Diincar Investor Rusia

- detikFinance
Jumat, 25 Jul 2014 15:40 WIB
Sektor Infrastruktur Indonesia Paling Diincar Investor Rusia
Jakarta -

Potensi investasi Rusia di Indonesia cukup tinggi, nilainya mencapai US$ 5,5 miliar atau setara Rp 55 triliun. Sektor yang paling diincar investor Rusia yaitu infrastruktur. Selain itu, sektor mining, mineral, dan IT juga menarik bagi mereka.

"Sektor paling mereka sukai di infrastruktur karena ada kereta, mining, mineral karena mereka sangat kuat di mineral dan IT perusahaan-perusahaan IT mereka juga ingin sekali masuk ke RI," kata Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia Djauhari Oratmangun saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (25/7/2014).

Dia menyebutkan, saat ini investor Rusia tengah menggarap proyek kereta api di Kalimantan Barat sepanjang 198 KM dengan investasi sebesar US$ 2,5 miliar. Ada juga investasi di alumina sebesar US$ 3 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sda investasi di jalur kereta api, itu ada di Kalimantan Barat dengan panjang 198 km dengan investasi US$ 2,5 milliar dan mudah-mudahan dalam waktu singkat akan groundbreaking. Investasi untuk alumina itu sekitar US$ 3 miliar, pemiliknya akan berkunjung ke sini awal Agustus. Pemiliknya itu sudah 6 kali ke sini," katanya.

Meski begitu, Djauhari menambahkan, Indonesia masih perlu banyak promosi agar lebih banyak menarik investor global masuk ke Indonesia termasuk sektor keuangan.

"Kita harus rajin promosi ke sana, memang di masa lalu kan kita agak kurang ya promosi ke sana, mungkin di pasar tradisional, ini kan non tradisional jadi kita harus aktif dalam mempromosikan pasar non tradisional, syukur Alhamdulillah baik Menteri Perdagangan yang lalu Gita Wirjawan dan yang sekarang Pak Lutfi itu memberi prioritas pada Rusia dan sangat aktif dalam 2 tahun terakhir untuk melakukan promosi di sana, karena itu kan signifikan nilai perdagangan antara Indonesia dan Rusia," kata Djauhari.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads