Biasanya, risiko gagal bayar utang suatu negara tergambar dari instrumen Credit Default Swap (CDS). "Indonesia adalah negara dengan CDS lebih rendah dibandingkan negara-negara berkembang lain. Jadi risiko default kita memang sangat kecil," kata Chatib di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/8/2014).
Menurut Chatib, CDS Indonesia saat ini berada dalam kisaran 153. Angka tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan Brasil yang 156 atau India yang sudah mencapai level 179.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rendahnya CDS Indonesia, lanjut Chatib, disebabkan oleh makro ekonomi yang lebih stabil dibandingkan negara berkembang lain. Terlihat Indonesia yang tidak lagi digolongkan ke dalam lima negara berkembang dengan ekonomi yang rapuh atau yang sering disebut The Fragile Five.
"Artinya Indonesia baik-baik. Ekonominya terjaga dan premium risk-nya kecil," tuturnya.
Sebagai informasi, jumlah utang yang masih harus dibayar Argentina kepada para kreditur sebesar lebih dari US$ 1,3 miliar. Argentina seharusnya melakukan cicilan pembayaran US$ 539 juta terhadap obligasi yang direstrukturisasi pada 30 Juni 2014, dengan masa tenggang 30 hari.
(mkl/hds)











































