Selain ketegangan geopolitik internasional, isu dalam negeri terkait politik juga turut mempengaruhi pelaku pasar. Hari ini, Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang perdana sengketa pemilihan presiden (pilpres) yang diajukan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Duet ini menolak hasil rekapitulasi suara dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang memenangkan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
"Iya, ini memang menimbulkan uncertainty (ketidakpastian). Investor yakin bahwa peluang presiden terpilih versi KPU masih besar, tetapi di sisi lain khawatir juga kalau masalah ini berkepanjangan," tutur Destry Damayanti, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), kepada detikFinance, Rabu (6/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Takutnya nanti ada kubu yang tidak terima dengan putusan MK dan melakukan pendekatan-pendekatan politik. Jadi memang sepertinya belum ada kepastian," ujarnya.
Mencermati hal tersebut, Destry menilai akan terjadi koreksi di pasar seperti yang terjadi pada siang ini. Namun dia memperkirakan koreksi akan terjadi secara bertahap.
"Investor tetap masuk, karena market Indonesia masih potensial. Ada koreksi, tapi sepertinya bertahap. Tidak akan sekaligus," ucapnya.
Destry menyebutkan, sebaiknya seluruh pihak menghormati apapun keputusan MK nantinya. "Mestinya sudah lah, jangan jegal-menjegal lagi. Jadilah negawaran yang berjiwa besar," tegasnya.
Jika persoalan sengketa pilpres berlarut-larut, Destry khawatir Indonesia akan kehilangan momentum. "Kemarin baru diumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi kita melambat. Jangan lagi kita habiskan energi untuk hal-hal seperti ini, bisa hilang momentum untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi," sebutnya.
(hds/ang)











































