Menurut Bambang Brodjonegoro, Wakil Menteri Keuangan, pelemahan mata uang tidak hanya dialami Indonesia. Mata uang dunia memang cenderung melemah terhadap dolar AS.
"Itu lebih karena ada kekhawatiran interest rate di AS lebih cepat dinaikkan. Jadi orang berspekulasi cari posisi, itu biasa," katanya ketika ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (7/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Macam-macam. Pokoknya data CAD (current account deficit/defisit transaksi berjalan) membaik, trade balance (neraca perdagangan) membaik, inflasi lumayan. Kemarin kan trade balance kita defisit. Kalau ada perbaikan di situ, tentunya akan berpengaruh," papar Bambang.
Isu gagal bayar (default) obligasi Argentina, tambah Bambang, tidak mempengaruhi pelemahan rupiah. "Menurut saya tidak. Default Argentina itu kasus khusus," ujarnya.
Bambang menilai, default Argentina sebenarnya masalah hukum, bukan ekonomi. "Tidak ada urusan bahwa Argentina itu makro ekonominya jelek, tidak. Mereka sanggup bayar, kecuali yang tidak ada kesepakatan," tuturnya.
(hds/ang)











































