Bos Garuda Curhat Maskapainya Pernah Disepelekan

Bos Garuda Curhat Maskapainya Pernah Disepelekan

- detikFinance
Jumat, 08 Agu 2014 15:08 WIB
Bos Garuda Curhat Maskapainya Pernah Disepelekan
Jakarta -

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) pernah mengalami masa-masa sulit pada tahun 2000-an. Sebelum menjalankan program restrukturisasi pada tahun 2006, produk dan armada Garuda sangat tertinggal dibandingkan maskapai di Asia Pasifik. Bahkan Garuda sempat dipandang sebelah mata.

"2006 nggak masuk radar airlines di Asia. Garuda nggak dianggap," kata Direktur Utama (Dirut) Garuda Emirsyah Satar di Kantor Pusat Garuda, Jakarta, Jumat (8/8/2014).

Selain tak dianggap, Emir menuturkan saat periode awal menjadi Dirut Garuda, maskapainya sempat dilarang terbang ke Eropa serta memiliki persoalan lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita dilarang terbang ke Eropa, utang besar sehingga default, equity negatif, tidak mendapat kepercayaan dari institusi keuangan. Kita nggak mampu investasi 10 tahun terakhir, rekrutmen nggak ada. Produk dan service nggak standar," jelasnya.

Berkat kerja keras manajemen, Garuda mampu mengubah keadaan. Garuda mulai meremajakan dan menambah armada. Usia rata-rata armada maskapai pelat merah ini juga relatif baru. Begitu juga dengan jumlah armada yang bertambah dari 49 unit pada tahun 2006 menjadi 150 unit hingga saat ini.

"Mulai 2009 tambah pesawat baru. Pesawat usianya turun dari 12 tahun ke 4,2 tahun," katanya.

Diakui Emir, Garuda juga kini meraih berbagai macam penghargaan, menyalip maskapai penerbangan regional lain

"Dapat World Best Cabin Crew di 2014. Kita kalahkan tetangga yang selalu dapat award," katanya.

Kinerja keuangan perseroan juga tumbuh pesat dibandingkan saat awal-awal dirinya menjadi dirut. Aset Garuda berubah dari US$ 1,1 miliar di 2006 menjadi US$ 2,9 miliar pada akhir 2013. Sementara perseroan mampu mengubah modal dari negatif US$ 248 juta menjadi positif US$ 1,11 miliar.

Emir mengakui perseroan mengalami tekanan pada semester I 2014 akibat dampak investasi pengadaan armada baru. Perseroan juga terkena pukulan kurs dan harga bahan bakar yang tinggi.

"Impact itu kita lihat dari sudut kurs dan growth. Kita lihat semester I di bulan Juni itu sudah bagus. Kita menderita operating lost sampai bulan Mei. Bulan Juni sudah positif. Beda dari tahun lalu, impact kurs besar. Year on Year kurs terdepreasi 20%," paparnya.

Β 

Emirsyah Satar Berharap Segera Ada Penggantinya



Emirsyah Satar membenarkan masa jabatannya selama 2 periode sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan segera berakhir. Emir mengaku telah menghadap Kementerian BUMN selaku pemegang saham mayoritas terkait pergantian dirinya.

"Saya memang masa tugas akan berakhir. Saya sudah 10 tahun, nggak boleh diperpanjang. Sebelum puasa saya ke pemegang saham. Tolong cari pengganti saya," kata Emir.

Emir menyebut Garuda di bawah kepemimpinanya tumbuh menjadi korporasi besar. Ia menampik pergantian dirinya karena kondisi keuangan tertekan pada semester I 2014.

"Kalau masalah keuangan, nggak ada masalah keuangan. Keuangan masih positif, hanya keuangan tertekan karena kondisi ekonomi kita," katanya.

Ia berharap agar calon penggantinya berasal dari internal Garuda karena telah mengetahui tantangan maskapai ke depan.

"Saya melihat lebih bagus dari internal. Kasih kesempatan yang sama karena ini kesinambungan. Perjalanan sudah diketahui bersama-sama," ujarnya.

Namun Emir belum mau memberikan pesan terhadap calon bos Garuda yang baru. "Nanti kalau ada perpisahan," katanya.

(feb/zul)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads