Mantan Direktur Utama Garuda Robby Djohan pun menaruh perhatian khusus terhadap kinerja perseroan yang pernah dipimpinnya ini. Robby menyebut manajemen Garuda harus ada beberapa langkah besar agar Garuda kembali bangkit.
Garuda harus menunda untuk membeli atau menyewa pesawat baru karena kondisi industri yang sedang sulit karena kondisi industri penerbangan yang tengah lesu. Saat ini total pesawat Garuda mencapai 140 unit dan mayoritas merupakan armada baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Garuda juga diminta mencari sumber dana segar melalui strategic partner. Skema ini bisa menggandeng BUMN atau investor dunia. Dana dari sumber pasar modal dinilai saat ini tidak menguntungkan. Pasalnya harga saham perseroan saat ini hanya bertengger di angka Rp 426 per lembar.
"Dia bisa cari partner yang relefan seperti Angkasa Pura atau Pertamina. Mereka hubungan dengan Garuda. Kepemilikan negara bisa berkurang tapi mereka kan masih BUMN. Ini kesatuan share holder. Mereka keluarin US$ 500 juta, kecil bagi mereka," jelasnya.
Manajemen yang dibantu pemegang saham harus menyusun program restrukturisasi sumber daya manusia. Harus ada penyegaran pegawai di tubuh Garuda. Manajemen harus mempersiapkan calon pemimpin Garuda melalui pengembangan karir yang baik. Tenaga kerja baru bisa memicu perubahan budaya kerja di Garuda.
"Garuda harus punya generasi baru. Sampai sekarang yang masih kerja di Garuda orang-orang itu. Mereka sebentar lagi akan pensiun. Kalau dilihat Bank Mandiri, dia punya the best second generation," sebutnya.
Selain itu, Manajemen Garuda harus membeli keleluasaan kepada bagian penjualan seperti Branch Office Manager untuk melakukan berbagai macam aktvitas pemasaran. Bagian penjualan merupakan mesin uang bagi perseroan di tengah kondisi sulit saat ini.
"Branch Office Manager problemnya nggak diberi otoritas menentukan rute-rutenya sendiri. Mereka harus diikut sertakan. Mereka kan tahu jam-jamnya," jelasnya.
Selain itu jajaran manajemen harus berani menutup rute-rute yang rugi atau menunda pembukaan rute baru. Langkah ini diperlukan sebagai bagian efisiensi.
"Restrukturisasi rute yang nggak menguntungkan atau rutenya dikurangi. Kalau rugi maka harus disetop," sebutnya.
(feb/ang)











































