Demikian disampaikan Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Friderica Widyasari Dewi saat acara Halal bi Halal Industri Keuangan Syariah di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (27/8/2014).
"Secara year to date IHSG sudah naik 20%, ini tertinggi kedua setelah India. Sudah naik Rp 900 triliun, posisi terakhir Rp 5.200 triliun. Kapitalisasi saham syariah 60% dari total kapitalisasi saham. Semakin besar kepercayaan masyarakat kita terhadap pasar modal Indonesia," ujar wanita yang akrab disapa Kiki ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Net buy asing terbesar di atas Rp 56 triliun, ini menunjukkan kepercayaan asing," katanya.
Selain itu, Kiki menyebutkan, posisi saham syariah di pasar modal Indonesia juga terus meningkat. Saat ini, sudah ada 307 saham yang masuk efek syariah, jauh lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya 172 saham syariah.
"Ini peningkatan, sudah 307 saham yang masuk efek syariah, dulu baru 172 saham. Volume perdagangan juga mencapai 60%," terang dia.
Lebih jauh dia menjelaskan, sejak tahun 2011 saat pertama kali dibentuk Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), saham-saham yang dalam naungan ISSI sudah naik mencapai 40%.
"Saham-sahamnya sudah naik 40% sejak diluncurkan. Investor syariah mulai berkembang, kita terus sosialisasikan investasi syariah di Indonesia," ucapnya.
Kiki menyebutkan, produk-produk syariah di pasar keuangan juga terus dikembangkan melalui penerbitan ETF Syariah dan pembentukan sistem online trading syariah.
"Ketika masuk dengan pendekatan syariah itu lebih bisa diterima. ISSI itu melengkapi JII. Sekarang sudah ada sistem online trading syariah, ini pertama di dunia, sudah ada 8 AB punya itu. Ada ETF syariah juga. Kita sangat serius untuk mengembangkan syariah di pasar modal Indonesia," pungkasnya.
(drk/ang)











































