Pelaku pasar modal menilai pemerintahan yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah terlambat mengambil respons jika akhirnya berniat menaikkan harga BBM. Seharusnya harga BBM subsidi sudah dinaikkan saat ekonomi Indonesia sedang berada di puncak seperti pada 2012.
"Investor kecewa. Dari dulu Menteri Keuangan bilang BBM akan naik, tapi nggak jadi-jadi. Kalau dilakukan bertahap sejak dua tahun lalu, itu momentumnya bagus," papar Presiden Direktur PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) Dwina Septiani Wijaya ketika berkunjung ke redaksi detikFinance bersama jajaran direksi BPUI dan anak usahanya, Kamis (28/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu kita growth sudah bagus di atas 6%, kalau naikkan BBM dan pertumbuhan ekonomi turun 2% tidak masalah dan Indonesia masih menarik. Kalau dulu dilakukan, mungkin sekarang kita sudah investment grade," tegasnya.
Polemik BBM bersubsidi ini akhirnya mempengaruhi volume perdagangan transaksi di pasar modal. Banyak investor yang menarik dananya dan menunggu sampai ada kejelasan kebijakan.
"Paling signifikan kepada volume perdagangan, itu drop. Mungkin ada pengaruhnya juga ke transaksi efek. Investor kita itu cukup concern, mereka ambil langkah redeem," tuturnya.
Saat ini, BPUI punya anak usaha yang bergelut langsung di pasar modal, yaitu Bahana Securities dan Bahana TCW Investment Management. Menurut Dwina, tak hanya investor Bahana saja yang melakukan aksi tunggu alias wait and see tapi kemungkinan banyak investor di tempat lain melakukan hal yang sama.
"Sekarang memang agak lesu karena volume drop. Fund ditarik, tapi tidak ada yang masuk," ujarnya.
(ang/hds)











































