Direktur Utama GIAA Emirsyah Satar mengaku, bisnis penerbangan saat ini memang sedang mengalami tekanan. Tak hanya maskapai domestik, bahkan maskapai internasional juga mengalami hal yang sama.
"Harus diingat di Asia Pasifik ini airlines memang dalam tekanan, jadi memang inilah yang sedang dihadapi airlines domestik maupun internasional dan kita harus kerja keras," ungkap Emir saat ditemui di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, Selasa (2/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emir mencontohkan, beberapa maskapai dari negara lain seperti Malaysia, Qantas, Thailand, Singapura, dan Virgin juga tengah mengalami tekanan.
"Kita lihat Malaysia Airlines baru kemarin di injeksi kan, 6 miliar ringgit hampir US$ 1,9 miliar, lalu sudah banyak maskapai rugi, Qantas rugi US$ 2,3 miliar, Thai rugi, Singapura menurun kinerjanya, Virgin juga rugi, lalu Jet Star juga rugi," sebutnya.
Untuk itu, Emir mengatakan, pihaknya melakukan beberapa efisiensi untuk menekan angka kerugian, di antaranya dengan menutup rute penerbangan yang dianggap kurang menguntungkan.
"Restrukturasi rute, efisiensi dalam operasional, kita menutup rute, lalu rute yang di domestik yang nggak menguntungkan kita tutup, di internasional pun kita tutup," kata Emir.
(drk/ang)











































