Dahlan Beri Garuda 'PR' Atasi Kerugian

Dahlan Beri Garuda 'PR' Atasi Kerugian

- detikFinance
Kamis, 04 Sep 2014 07:50 WIB
Dahlan Beri Garuda PR Atasi Kerugian
Jakarta - Maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) punya utang cukup besar. Kondisi ini tak pelak membuat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan turun tangan.

Rabu (3/9/2014) pagi Dahlan akhirnya mengambil sikap dengan menggelar rapat terbatas dengan direksi dan komisaris Garuda Indonesia.

Hasilnya, ada 25 catatan yang harus dilakukan manajemen Garuda agar kerugian yang dialami perusahaan dapat dikurangi hingga akhir tahun ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada 25 pekerjaan yang akan dilakukan untuk menanggulangi kerugian itu, saya akan kontrol sendiri untuk mengurangi rugi Garuda," kata Dahlan di JCC, Jakarta, Rabu (3/9/2014) malam.

Dari 25 PR itu, salah satu amanat Dahlan agar sayap Garuda tetap bisa mengembang adalah dengan melakukan efisiensi. Utamanya terkait manajemen rute, penggunaan kapal dan konsumsi bahan bakar lewat efisiensi waktu antre.

"Rute-rute penerbangan yang ini tidak penuh penumpang dapat diganti dengan pesawat yang lebih kecil, kan sekarang sudah ada Bombardier. Selain itu manajemen penerbangan waktu antre dan sebagainya juga ditingkatkan supaya penggunaan bahan bakar juga lebih efisien," tuturnya.

Dari laporan keuangannya, Perusahan tercatat yang sahamnya diperdagangkan dengan kode GIAA ini mencatat kinerja yang membuat dahi berkerut.

Pada semester pertama tahun ini saja perusahaan membukukan rugi bersih US$ 211,7 juta atau setara dengan Rp 2,4 triliun. Periode yang sama tahun sebelumnya perusahaan hanya mencatat rugi US$ 10,9 juta. Artinya ada lonjakan signifikan hampir 20 kali lipat tepatnya 1.842% atas utang yang dicatatkan tersebut.

Kerugian Garuda ini disebabkan oleh perolehan pendapatan cenderung stagnan alias tidak bertumbuh sementara beban operasional kian melambung. Pendapatan usaha perseroan tercatat US$ 1,73 miliar dari periode Januari-Juni 2013 yang mencapai US$ 1,72 miliar.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads